Ini Upaya Pemprov Jabar Genjot Indeks Baca Warga

Wisma Putra - detikNews
Minggu, 20 Des 2020 09:46 WIB
Anak membaca buku.
Foto: Ilustrasi (Thinkstock).
Bandung -

Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus berupaya untuk meningkatkan indeks baca di masyarakat. Berbagai upaya dilakukan demi menunjukkan hal tersebut, salah satunya dengan menambah sarana membaca seperti perpustakaan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat Ahmad Hadadi mengatakan penambahan sarana membaca dinilainya dapat meningkatkan indeks membaca di masyarakat.

"Saat ini perpustakaan di Jawa Barat ada sebanyak 22.116. Jumlah ini mencapai 47,06% dari lembaga yang ada sebanyak 44.996," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (20/12/2020).

Ia mendorong, lembaga-lembaga yang belum memiliki perpustakaan agar segera membangun fasilitas membaca tersebut. Selain itu, Hadadi menyebut pihaknya terus meningkatkan ketersediaan fasilitas membaca selain perpustakaan formal.

"Kami menyediakan perpustakaan digital," ujarnya.

Hadadi juga menyebut, pihaknya juga sudah memilki perpustakaan digital. Kehadiran perpustakaan digital ini bisa diakses dengan mengunduh aplikasi CANDIL yang sudah tersedia di Google Playstore dan app store.

Tak hanya itu, demi meningkatnya indeks membaca di masyarakat pihaknya juga menyiapkan pojok bacaan di seluruh kabupaten kota di Jawa Barat.

"Ada kotak literasi cerdas yang tersedia di seluruh kecamatan di Jawa Barat. Di situ koleksi bukunya terus ditambah," ungkapnya.

Hadadi menyebut, pihaknya bersama pemerintah kabupaten kota menunjuk duta baca yang saat ini jumlah mencapai 1.549. "Mereka bekerjasama dengan komunitas-komunitas untuk meningkatkan tingkat membaca masyarakat," tambahnya.

Pandemi COVID-19 yang saat ini terjadi berdampak terhadap minat membaca masyarakat. Tingkat literasi masyarakat berkurang salah satunya karena ditutupnya sejumlah fasilitas membaca seperti perpustakaan.

Akademisi ilmu perpustakaan dan informasi dari Universitas Padjajaran Bandung Asep Saeful Rohman menyontohkan, penurunan indeks literasi di masa pandemi ini terjadi di Jawa Barat.

Hal tersebut terlihat berdasarkan hasil penelitian terbarunya bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat terkait indeks baca.

"Penelitian ini dilakukan terhadap 4.799 responden di 27 kabupaten kota di Jawa Barat pada September-November lalu. Berdasarkan itu, indeks baca masyarakat Jawa Barat berada di angka 61,49 atau masuk kategori cukup," ujarnya.

Dia pun menjelaskan sejumlah faktor yang menyebabkan penurunan tersebut. Ada tiga faktor utama yang memengaruhi kebiasaan membaca masyarakat, yakni tersedianya bahan bacaan yang memadai, bervariasinya bahan bacaan dan sumber informasi, mudah ditemukannya bahan bacaan dan terpenuhinya keinginan serta kebutuhan pembaca.

Selain itu, pada masa pandemi ini banyak perpustakaan yang tutup demi mencegah penyebaran virus korona. Hal ini sangat berdampak karena semakin berkurangnya ketersediaan bahan bacaan.

"Kita lihat sekolah-sekolah tutup, kampus-kampus tutup, otomatis perpustakaannya pun ikut tutup. Bukan hanya di provinsi, perpustakaan di kabupaten kota pun ikut tutup untuk menghindari kerumunan," katanya.

Berdasarkan penelitiannya itu, tugas pemerintah masih besar jika dilihat dari variabel ketersediaan fasilitas membaca dan sumber informasi yang masih ada di angka 52,33.

"Memang menurun, hampir 10 poin dari hasil penelitian di tahun 2016 lalu," tambahnya.

Sementara itu, untuk pemanfaatan bahan bacaan dan sumber informasi, berdasarkan penelitiannya berada di angka 68,61. "Artinya masyarakat Jabar masih cukup baik di dalam memanfaatkan bahan bacaan, baik yang dimiliki atau yang didapatkan dari sarana lainnya," ucapnya.

Sedangkan variabel ketiga dalam mengukur indeks baca masyarakat Jawa Barat ialah kebiasaan membaca masyarakat. Hasil penelitian tersebut berada di angkat 63,54.

"Kita patut bersyukur, masyarakat masih memiliki pungkasnya. Mungkin di rumahnya masing-masing mereka tetap melaksanakan membaca," pungkasnya.

(wip/mso)