Demo di Polres Purwakarta, Pendukung HRS: Bebaskan Habib Rizieq!

Dian Firmansyah - detikNews
Jumat, 18 Des 2020 16:47 WIB
Massa pendukung Habib Rizieq demo di Mapolres Purwakarta
Foto: Massa pendukung Habib Rizieq demo di Mapolres Purwakarta (Dian Firmansyah/detikcom).
Purwakarta -

Massa pendukung Habib Rizieq menggelar aksi unjuk rasa di Mapolres Purwakarta, Jumat (18/12/2020). Mereka datang menuntut aparat penegak hukum bisa berlaku adil dalam penanganan kasus kerumunan Habib Rizieq.

Sebelum tiba di Mapolres Purwakarta, massa melakukan aksi long march sejauh kurang lebih 2 kilometer. Ketegangan sempat terjadi ketika massa sempat akan mendobrak barikade petugas.

Massa diarahkan ke tempat lapangan sepak bola di Mapolres untuk menggelar aksi. Namun massa meminta aksi dilakukan di halaman utama Mapolres.

Beruntung ketegangan tidak menjadi setelah negosiasi berhasil dan massa masuk ke areal lapangan sepak bola.

Sekitar 10 perwakilan masuk ke kantor untuk melakukan mediasi kepada Kapolres Purwakarta. Sementara massa tetap melakukan orasi di lapangan tersebut.

Menurut Ketua Komunitas Masyarakat Purwakarta Zaenal Abidin, aksi ini dilakukan untuk menuntut ditegakkannya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa pandang bulu.

"Untuk meminta ditegakkan keadilan di Negara Republik Indonesia, tidak boleh pandang bulu harus tegak kepada siapapun, hukum harus berlaku untuk semua orang. Kalau kemarin HRS dicari dengan UU Pandemi maka di daerah sana termasuk anak Pak Presiden itu harus diproses juga, kalau kasusnya adalah kerumunan," ucap Zaenal di sela-sela aksinya.

Zaenal menegaskan jika kasus kerumunan bukan hanya terjadi saat acara yang dilakukan oleh HRS. Kerumunan juga terjadi saat masa kampanye Pilkada di sejumlah daerah.

"Kenapa harus ke Habib Riziq saja, kita meminta Habib Rizieq dibebaskan tanpa syarat," ucapnya.

Selain soal kerumunan, pihaknya juga meminta kasus penembakan 6 laskar FPI diusut tuntas. Dia meminta agar dibentuk tim pencari fakta independen.

"Kami meminta dibentuknya tim pencari fakta independen untuk mengusut kasus 6 laskar yang meninggal, sehingga semua terbuka terang benderang siapa yang bersalah itu harus di tindak tegas, sehingga negara terhindar dari perpecahan," ungkap Zaenal.

(mso/mso)