Potensi Krisis Pangan 2021, Ridwan Kamil Dorong Perbankan Bantu Petani

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 10 Des 2020 18:53 WIB
Gubernur Jabar Ridwan Kamil
Foto: Gubernur Jabar Ridwan Kamil (Istimewa).
Bandung -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendorong agar perbankan, khususnya BJB, lebih aktif mengucurkan kredit untuk menggenjot produktivitas petani. Kang Emil sapaannya menuturkan saat ini produktivitas di sektor pertanian dalam negeri masih rendah dan bergantung pada produk pertanian impor.

Ia menyebut, pada 2021 mendatang diprediksi akan terjadi krisis pangan yang diakibatkan berkurangnya volume ekspor pangan dari sejumlah negara, seperti Vietnam. Sementara itu produksi pangan di daerah masih sangat rendah.

"Perbankan harus mendukung penuh revolusi pangan," kata Kang Emil dalam West Java Food & Agriculture Summit 2020, di Bandung, Kamis (10/12/2020).

Sehingga, ucap Kang Emil, perbankan jangan menunggu petani yang memerlukan. Tetapi, lebih aktif mendatangi petani-petani yang kesulitan mendapatkan bantuan perbankan.

"Jangan tunggu bola, jangan gunakan politik jaga warung yang menunggu orang lewat," katanya.

Selain itu, sambungnya, aktifnya perbankan juga akan menghindarkan kalangan petani dari sasaran rentenir. "Padahal bagi mereka besaran bunga enggak masalah. Yang jadi masalah kemudahan aksesnya," katanya.

Problema lainnya di sektor pertanian, kata dia, jumlah petani di daerah pertanian mulai menurun yang berdampak kepada produksi. Menurut dia, saat ini 75% petani sudah berusia di atas 45 tahun.

"Anak-anak muda tidak ingin menjadi petani," ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya menggagas program 1.000 petani milenial untuk menumbuhkan minat bertani di kalangan anak muda.

Melalui program ini, Emil berharap anak muda membawa perubahan terhadap masa depan pangan Tanah Air khususnya Jawa Barat. Dengan cara inipun, Emil berharap pertanian di Jawa Barat lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan digitalisasi.

Nantinya, lanjut Emil, dalam program ini petani muda akan diberi lahan untuk digarap menjadi kawasan pertanian. "Lahan-lahan yang tidak terpakai milik pemda, akan dipinjamkan kepada petani milenial," katanya.

Menurutnya, setiap petani muda akan mendapatkan lahan minimal satu hektare untuk bertani. Adapun komoditas yang ditanam akan disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan kondisi lahan.

Tak hanya itu, pihaknya pun akan mencarikan offtaker baik di dalam maupun luar negeri sehingga mereka bisa berkolaborasi untuk menentukan komoditas apa yang dibutuhkan pasar.

"Jadi mereka tidak perlu bingung-bingung memikirkan hasil pertaniannya akan dijual ke mana," ujarnya.

Tak hanya itu, menurutnya petani milenial ini pun akan didorong untuk menggunakan teknologi dalam bertani. Dengan begitu, dia meyakini produktivitasnya akan meningkat bahkan mampu menembus pasar global. "Pemanfaatan teknologi, terutama yang berbasis internet," ujarnya.

(yum/mso)