Polisi Tangkap Pelaku Pembalak Liar di Sumedang, 70 Batang Kayu Disita

Muhamad Rizal - detikNews
Kamis, 03 Des 2020 13:47 WIB
Pelaku pembalak liar di Sumedang.s
Foto: Pelaku pembalak liar di Sumedang (Muhamad Rizal/detikcom).
Sumedang -

Polres Sumedang berhasil mengamankan pelaku pembalakan liar atau ilegal loging di wilayah hutan produksi milik Perhutani. Sebanyak 70 batang kayu disita.

Pelaku diduga kuat melakukan kegiatan ilegal loging di wilayah hutan produksi milik Perhutani di Petak 12A1 RPH Keredok Blok Gunung Cangkuang, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang. Mereka menggasak kayu sonokeling dan sonorbit produktif berbagai ukuran.

Kapolres Sumedang AKBP Eko Prasetyo Robbyanto mengatakan pelaku berinisial Macan beraksi di Petak 12A1 RPH Keredok Blok Gunung Cangkuang pada Kamis (30/7/2020) pukul 08.00 WIB.

"Pelaku berhasil diamankan di mess pegawai perkebunan pisang Blok HGU Desa Amis, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu pada Senin 30 November 2020," kata Eko saat gelar perkara di Mapolres Sumedang, Kamis (3/12/2020).

Menurut Eko pelaku telah melakukan pencurian tanpa dilengkapi dengan surat izin yang sah. Kemudian dalam aksinya pelaku menebang pohon dengan cara menggunakan mesin gergaji senso, lalu diangkut dengan menggunakan truk yang dikendarai oleh pria berinisial IW.

"Untuk sopir truk, masih kami lakukan pemeriksaan, karena dia tidak tahu kayu yang dibawanya merupakan hasil curian," katanya.

Dia mengungkapkan motif pelaku melakukan pembalakan liar ini karena tuntutan ekonomi. Pelaku nekad melakukan pencurian di tanah milik Perhutani.

"Motif pelaku mencuri kayu adalah karena faktor ekonomi, rencananya hasil kayu itu akan dijual namun pelaku tertangkap terlebih dahulu," ungkapnya.

Saat ini, pihaknya telah mengamankan barang bukti seperti 1 kendaraan truk bernopol Z 8507 AB, 1 surat keterangan Desa, 1 lembar SPPT PBB dan puluhan batang pohon hasil penebangan pelaku.

"Selain mengamankan pelaku, Polisi turut mengamankan 34 batang kayu Sonokeling dan 36 batang kayu Sonobrit yang siap jual," ucapnya.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 82 ayat (1) huruf b Jo Pasal 12 huruf b atau Pasal 83 ayat (1) huruf b Jo Pasal 12 huruf e Undang Undang RI Nomor 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan. Atau Pasal 78 ayat (5) Jo Pasal 50 ayat (3) huruf e UURI No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan.

"Ancaman hukumannya 5 tahun penjara serta denda Rp 2.5 miliar atau penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar," ujar Eko.

(mso/mso)