Reaksi Nelayan Pangandaran soal Edhy Prabowo Ditangkap KPK

Faizal Amiruddin - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 12:57 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan
Edhy Prabowo (Foto: Muhammad Ridho/detikcom)
Pangadaran - Kabar penangkapan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo oleh KPK langsung menyebar seantero Nusantara, tak terkecuali kalangan nelayan di Kabupaten Pangandaran. Kabar Adhy sebagai pimpinan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dicokok KPK menjadi topik obrolan sejumlah nelayan usai melaut di warung kopi di sekitar pelabuhan pendaratan ikan Cikidang Pangandaran, Rabu (25/11/2020).

"Baru sandar tadi, kawan-kawan heboh Menteri KKP ditangkap KPK katanya gara-gara baby lobster," kata Tukirun (55) nelayan warga Desa Babakan Kecamatan/Kabupaten Pangandaran. Dia mengaku tidak tahu dan tak mau ambil pusing dengan kasus tersebut. "Saya tidak tahu dan tak mau ambil pusing dengan kasus itu. Tapi kalau berbicara benih lobster saya sejak awal tak setuju," kata Tukirun.

Dia mengaku bukan tak tahu bahwa menangkap benih lobster akan membawa keuntungan besar karena harga jualnya yang tinggi. Tukirun juga mengaku tahu jika di Pangandaran pun sudah ada nelayan yang mulai menangkapi benih lobster di malam hari.

"Kalau saya pribadi mah lebih menghargai dan setuju dengan Bu Susi (Susi Pujiastuti) dan Pak Jeje (Jeje Wiradinata Bupati Pangandaran). Kalau benur terus-terusan diambil akan habis, nanti kita tak bisa dapat lobster besar lagi," kata Tukirun.

Wakil Ketua HNSI Pangandaran Muhammad Yusuf mengatakan perlu adanya evaluasi atau kaji ulang mengenai peraturan penangkapan baby lobster. "Intinya kami ingin ada upaya pelestarian dan menjaga kelestarian ekosistem khususnya populasi lobster," kata Yusuf.

Salah satu yang harus dievaluasi adalah kewajiban melepasliarkan dua persen hasil budidaya baby lobster. "Yang ada sekarang kan menangkap lalu menjual. Budidaya dan pelepasliaran sebanyak dua persen belum dilakukan," kata Yusuf.

Dia menambahkan penangkapan benih lobster di Pangandaran saat ini semakin berkurang. "Nelayan Pangandaran sudah banyak yang menyadari, mereka banyak yang sudah tak tertarik mengambil baby lobster," kata Yusuf.

Pengurus HNSI Pangandaran lainnya, Fuad Husen menegaskan, sampai kapan pun HNSI Pangandaran menolak eksplorasi benih lobster. "Kami khawatir generasi yang akan datang tak akan melihat lagi lobster besar," kata Fuad. (bbn/bbn)