Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dipangkas, Ini Respons Satgas COVID-19 Jabar

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 12:37 WIB
Poster
Foto: Ilustrasi (Edi Wahyon/detikcom).
Bandung -

Presiden Joko Widodo memberikan arahan agar masa libur panjang akhir tahun 2020 dikurangi. Pemangkasan libur cuti bersama, termasuk libur pengganti Hari Raya Idul Fitri 2020 dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya penularan COVID-19. Lalu bagaimana respon Satgas COVID-19 Jabar?

Ketua Harian Satgas Penanganan COVID-19 Jabar Daud Achmad mengatakan akan mengikuti arahan dari pusat terkait kebijakan pemangkasan libur akhir tahun. Kendati begitu, pihaknya akan tetap melakukan penanganan virus Corona.

"Kita tetap bekerja, jadi tidak terpengaruh mau libur atau tidak," ujar Daud saat dihubungi wartawan, Selasa (24/11/2020).

Sebelumnya, libur panjang ditengarai menjadi penyebab munculnya kasus baru COVID-19 di Jawa Barat. Oleh karena itu, pemeriksaan acak akan kembali gencar dilakukan dengan jangkauan yang lebih luas.

"Iya, libur panjang nanti kita bakal gelar rapid tes acak lagi. Bahkan, kemungkinan cakupannya lebih luas dan jumlah yang dites lebih banyak. Intinya, testing, tracing, dan treatment tetap kita lakukan, baik saat hari libur ataupun tidak," ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan hal serupa. Pihaknya akan tetap menyiapkan langkah antisipatif agar virus mematikan itu tak menjangkiti warga.

"Kita siap-siap saja, bagaimana pun keputusannya," ujar pria yang akrab disapa Kang Emil itu beberapa waktu lalu di Savoy Homann, Kota Bandung.

Kasus positif virus COVID-19 di Indonesia bertambah 4.360 orang pada Minggu (22/11). Dengan demikian total kasus positif COVID-19 mencapai 497.668 orang.

Penularan COVID-19 di Ibu Kota mencapai rekor tertinggi dengan penambahan kasus harian sebanyak 1.579. Lagi-lagi urusan libur panjang atau long weekend beberapa waktu lalu disebut-sebut berkaitan dengan angka penularan yang tinggi itu.

Juru Bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menduga kenaikan kasus tersebut karena efek long weekend pada akhir Oktober lalu. Wiku mengatakan hal tersebut berkaca pada pengalaman pasca-libur panjang Idul Fitri, Idul Adha, dan Hari Kemerdekaan. Oleh karena itu, Wiku menilai rekor kasus Corona di Jakarta kemarin diduga karena efek libur cuti bersama.

"Efek suatu event yang menimbulkan kerumunan dan penularan, biasanya baru terlihat dampak peningkatannya (dengan asumsi testing dilakukan seperti biasanya) dalam 10-14 hari kemudian," kata Wiku.

"Jadi kalau sekarang meningkat itu kemungkinan terkait libur panjang 28 Oktober-1 November," imbuhnya.

(yum/mso)