Denmark Soroti Penanganan Sungai Citarum, Minat Investasi?

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 19 Nov 2020 15:16 WIB
Denmark sorot Sungai Citarum, mau investasi
Denmark sorot Sungai Citarum, mau investasi? (Foto: Yudha Maulana)
Bandung -

Program Citarum Harum telah bergulir selama dua tahun, upaya yang digalang pemerintah pusat dan daerah ini menunjukkan hasil yang positif untuk memulihkan kembali Sungai Citarum.

Melihat progres pemulihan Sungai Citarum, Kepala Perdagangan di Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia Jacob Kahl Jepsen mengatakan negaranya pernah menghadapi masalah lingkungan yang dihadapi Indonesia saat ini, terutama masalah limbah.

"Kami melihat bagaimana sistem pengolahan limbah yang ada di sini. Kami akan mencari solusi berbeda untuk menangani masalah ini," ujar Jacob dalam siaran pers, Kamis (19/11/2020). Kedutaan Denmark untuk Indonesia pun menyusuri ke sejumlah titik di Citarum.

Jacob mengatakan, Denmark telah melalui masa pencemaran lingkungan sejak 1960, sehingga saat ini kata dia telah banyak komunitas yang menangani masalah tersebut dan bisa dijadikan tempat bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah.

"Pengolahan limbah ini merupakan hal yang rumit dan ini adalah isu yang besar dan rumit untuk dipecahkan. Kita tahu kualitas air terus menurun dan itu menjadi tantangan untuk memperbaiki sistem air di sini," paparnya.

Air, kata Jacob, memiliki nilai yang harus dijaga. Namun dengan kondisi pencemaran yang ada, diperlukan pengolahan yang memerlukan biaya tidak sedikit. Denmark pun, katanya, tertarik untuk mengembangkan sistem air.

"Kami telah berdiskusi dan mempelajari masalah di sini. Kami akan kembali ke negara kami dan melihat apa yang bisa menarik perhatian untuk bisa mengembangkan sistem air di sini," ujarnya.

"Kami memiliki banyak opsi solusi, bagaimana mengolah air, menyalurkan limbah dengan aman, dan lainnya. kita bisa melakukan kerja sama jangka panjang dan kita sangat tertarik dengan itu," imbuhnya.

Dansektor 7 Satgas Citarum Harum, Kolonel Purwadi, menyambut baik dengan rencana pemerintah Denmark yang akan berinvestasi terhadap pengolahan limbah di DAS Citarum.

Purwadi mengatakan dengan hadirnya banyak pihak dalam pengolahan air limbah, akan mengurangi beban pencemaran yang ada di Citarum.

"Mereka memiliki teknologi limbah dan pengolahan sampah, itu yang kita harapkan dari investasi mereka," ujarnya.

Sampah Berkurang 42 Persen

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Asep Kusumah melaporkan, dalam dua tahun terakhir kontribusi sampah yang masuk ke aliran sungai terpanjang di Tatar Pasundan itu telah berkurang hingga 42 persen.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan jumlah sampah yang dibuang ke sungai, ujar Asep, ialah dengan membangun infrastruktur pengolahan sampah seperti pembangunan Tempat Pembangunan Sampah Sementara (TPS) juga bank sampah.

Asep mencatat terdapat 2.443 truk yang tidak sampai ke TPA karena sudah bisa diolah sejak dari sumber pertama, yakni rumah tangga. "Selesai di sumber karena lahirnya banyak bank sampah dan lubang cerdas organik (LCO)," kata Asep.

Sementara itu, berdasarkan hasil koordinasi dengan pengusaha bank sampah, setiap harinya sampah yang mampu didaur ulang bisa mencapai 900 ton. Setidaknya saat ini terdapat 36 bank sampah yang dikelola oleh swasta.

"Produksi sampah yang bisa didaur ulang di Kabupaten bandung itu rata-rata 1.400 ton/hari. Artinya 70% sampah masuk ke sana (bank sampah)," ucapnya.

Namun sebagian produksi daur ulang di bank sampah yang ada di Kabupaten Bandung berasal dari daerah lain, seperti Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat. Sementara produksi bank sampah yang berasal dari Kabupaten Bandung masih berkisar 450-500 ton/hari.

Walau demikian, jika terdapat 1.400 sampah daur ulang dari kabupaten bandung, maka dengan 36 bank sampah yang telah ada dengan rata-rata produksi 450-500 ton/hari, maka keberadaan bank sampah sudah mampu mengurangi 30-35% sampah yang bisa didaur ulang masuk ke sungai.

"Dengan adanya bank sampah ditambah LCO dan pengolahan lainnya, saya rasa sampah yang masuk ke Citarum dari wilayah kabupaten bandung sudah bisa berkurang sampai 42%," katanya.

(yum/mud)