Kasus Positif Corona Klaster Keluarga di Kota Bandung Terus Meningkat

Wisma Putra - detikNews
Rabu, 18 Nov 2020 13:34 WIB
Poster
Ilustrasi (Foto: Edi Wahyono)
Bandung -

Sekda Kota Bandung Ema Sumarna menyebut, dinamika COVID-19 di Kota Bandung semakin meningkat. Notabene, kasus ini didominasi klaster keluarga.

"Dari sisi pergerakan angka terjadi pergerakan yang harus kita antisipasi, langkah cepatnya kita koordinasikan dengan seluruh gugus tugas, baik kota, kecamatan dan kelurahan," kata Ema di Balai Kota Bandung, Rabu (18/11/2020).

Ema menyebut, persentase klaster keluarga sudah ada di atas 30 persen. "Pergerakan klaster keluarga sudah di atas 30 persen," ujarnya.

Dari informasi yang dihimpun detikcom dari laman Pusat Informasi COVID-19 (Pusicov) Kota Bandung kasus positif kumulatif mencapai 2.553 bertambah 63 dari sehari sebelumnya, positif aktif 281 berkurang 17 dari sehari sebelumnya, sembuh 2.165 bertambah 76 dan meninggal dunia 107 bertambah 4 orang.

Ema juga mengungkap, faktor penyebab pemaparan COVID-19 yang terjadi di klaster keluarga yakni kontak erat.

"Ini kebanyakan karena kontak erat, misalnya saya sebagai kepala keluarga yang hari ini bekerja, datang ke rumah ini saya bisa jadi cerier, ini dicontohkan saja. Kemudian saya jangan dulu berkontak dengan keluarga, harusnya kan saya bersihkan pakaian dan bersihkan badan," ungkapnya.

"Itu didapatkan data seperti itu dari Kadinkes," tambahnya.

Selain itu, pemaparan COVID-19 ini ada yang berasal dari warga yang bekerja di Bodebek yang diketahui zona merah.

"Terus ada yang bekerja di Bodebek, itu kan zona merah, begitu datang ke sini berkontak erat dengan keluarganya, itu menjadi faktor penyebab," paparnya.

Selain itu, usia rentan turut menyumbang kasus positif COVID-19 di Kota Bandung.
"Kemudian yang harus kita antisipasi usia rentan, yaitu usia di atas 60 dan 70. Dan saya minta camat dan lurah untuk dipetakan, nanti penanganannya secara teknis oleh puskemas di wilayah tersebut," jelasnya.

Ema kembali menegaskan, kasus positif COVID-19 yang berasal dari klaster keluarga terus meningkat. "Itu meningkat, itu bahaya," pungkasnya.

(wip/mud)