Round-Up

Sikap Ridwan Kamil soal Habib Rizieq: Kirim Pesan-Siap Tanggung Jawab

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 18 Nov 2020 07:51 WIB
Ridwan Kamil minta buruh terima keputusan pemerintah terkait Omnibus Law Ciptaker
Ridwan Kamil (Foto: Luthfiana Awaluddin)

Seperti diketahui, HRS yang merupakan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) mengunjungi Pondok Pesantren Alam Agrokultural Markaz Syariah, Megamendung, Kabupaten Bogor. Para santri antusias menyambut kedatangan Rizieq.

Dalam kegiatan itu terjadi kerumunan massa. Sebagian massa bahkan ada yang tak mengenakan masker. Menyorot hal itu, Kang Emil pun mengirimkan pesan kepada HRS, agar lebih memperhatikan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan yang berpotensi mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Pesan itu disampaikannya melalui para habaib.

"Saya sudah mengirimkan pesan pada Habib Rizieq juga melalui habib-habib yang lain. Agar mampu memahami situasi yg tak mudah dalam pengendalian COVID-19. Mungkin seperti yang lain menerapkan protokol AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru)," katanya.

"Yaitu tetap acara maulid terselenggara, tapi bisa menggunakan teknologi seperti Zoom misalnya, seperti yang kami gunakan saat menyapa audiens dengan jumlah yang banyak, tapi mengikuti protokol kesehatan. Jadi AKB ini mohon coba dipertimbangkan," katanya menambahkan.

Ia tak mengharapkan pelarangan menggelar acara muncul, karena terjadi kontinuitas pelanggaran. Ia mengharapkan masyarakat bisa tetap produktif, tetapi wajib mengikuti protokol kesehatan karena pandemi COVID-19.

"Yaitu caranya beradaptasi, kebiasaan lama yg ramai-ramai berkerumun menjadi tetap produktif, tetapi ada caranya dengan menggunakan teknologi menggunakan cara baru. Seperti ada konser (yang disaksikan) di mobil dan lain-lain," katanya.

Lebih lanjut, ia meminta agar semua pihak dan tokoh yang memiliki pengaruh untuk mengendalikan diri terlebih dahulu untuk mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. "Karena kalau sudah banyak pengikutnya, kelompoknya berkumpul itu lebih susah dikendalikan," ucapnya.

"Definisi ketegasan juga tak sesederhana yang kita bayangkan, karena ketegasan bertemu dengan massa yg banyak . Itu sering kali terjadi bentrokan seperti halnya demo-demo waktu Omnibus Law yang berakhir dengan destruktif juga," katanya.

"Jadi mungkin ada pertimbangan-pertimbangan humanis yg dilakukan oleh kepolisian Jabar, dalam mengambil penanganan itu," pungkasnya.


(yum/mud)