Melihat Desa Pembuat Pembungkus Makanan Berbahan Kertas di Kuningan

Bima Bagaskara - detikNews
Selasa, 10 Nov 2020 15:01 WIB
Seorang warga tengah merapihkan kertas bungkus makanan.
Foto: Seorang warga tengah merapihkan kertas bungkus makanan (Bima Bagaskara/detikcom).
Kuningan -

Para pecinta gorengan pasti sudah tidak asing dengan kertas pembungkus makanan. Kertas pembungkus ini menjadi 'wajib' hukumnya disediakan oleh penjual gorengan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kadar minyak yang ada di gorengan tersebut.

Tapi tahukah kalau kertas pembungkus gorengan itu ternyata dibuat secara khusus. Selain sudah terlipat rapih, kertas pembungkus gorengan juga memiliki ukuran yang bervariasi.

Di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat terdapat desa yang sebagian besar warganya bekerja menjadi pembuat kertas pembungkus gorengan. Desa tersebut ialah Desa Ciherang di Kecamatan Kadugede.

Di Desa Ciherang ini ada warga yang bekerja menjadi pelipat kertas pembungkus gorengan yang dikerjakan di masing-masing rumah. Ada juga 'bos besar' yang mendistribusikan kertas kepada warga untuk kemudian dilipat.

Warga yang bekerja melipat kertas akan mendapat bayaran dari 'bos besar' sesuai jumlah bungkus gorengan yang dihasilkan.

Agus Somantri (49) salah seorang 'bos besar' kertas pembungkus gorengan di Desa Ciherang mengatakan sudah lima tahun terakhir menjalankan bisnisnya. Usaha tersebut merupakan usaha turun temurun dari orang tuanya yang sudah ada sejak tahun 1950.

"Sudah lima tahun meneruskan warisan orang tua. Kalau orang tua yang pertama kali usaha ini dari tahun 1950, kemudian diteruskan saya," kata Agus saat ditemui detikcom Selasa (10/11/2020).

Untuk bahan baku kertas sendiri Agus mendapatkannya dari para tukang rongsok, kantor-kantor dan sekolah. Sedangkan untuk yang membuat kertas pembungkus gorengan saat ini sudah mencakup warga di enam desa.

"Jadi ini home industri, bahan kertas dikirim ke rumah warga, dilipat kalau sudah selesai dikembalikan ke sini. Yang mengerjakan ada di enam desa, Desa Puncak, Karangsari, Jambar, Ciherang, Cikadu dan Linggar," ucapnya.

Kertas pembungkus gorengan yang sudah selesai dilipat kemudian Agus kirim ke pasar-pasar maupun pengepul yang ada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bekasi dan Bandung.

Untuk satu ikat yang berisi 1.000 lembar, kertas pembungkus gorengan berukuran kecil dijual Rp 30 ribu. Sedangkan untuk yang berukuran sedang Rp 40 ribu dan yang besar Rp 60 ribu.

Dalam sebulan, Agus mampu mengirim 4 sampai lima mobil box kertas pembungkus gorengan. Satu mobilnya berisi 400 ikat kertas pembungkus gorengan. Namun di masa pandemi ini, Agus hanya bisa mengirim maksimal 2 mobil dalam satu bulan.

"Sebelum pandemi bisa ngirim 4-5 mobil dalam sebulan, satu mobilnya 400 ikat. Kalau sekarang maksimal hanya 2 mobil. Dikirimnya keluar kota seperti Jakarta, Bekasi tapi kebanyakan dikirim ke Bandung," pungkasnya.

Sementara itu, Titi Nuridah (60) salah seorang warga Desa Ciherang yang bekerja melipat kertas pembungkus gorengan mengaku, dalam sehari Ia bisa mengerjakan maksimal 3 ikat kertas pembungkus gorengan.

Untuk satu ikatnya, Titi mendapat bayaran Rp 5 ribu untuk kertas berukuran kecil dan sedang. Sementara untuk yang berukuran besar Titi dibayar Rp 7 ribu per ikatnya.

"Paling banyak sehari bisa 3 ikat. Kalau bayarannya satu ikat yang kecil dan sedang dibayar Rp 5 ribu, untuk yang besar dibayar Rp 7 ribu," ungkap Titi.

Meski bayaran yang diterima tidak begitu besar namun Titi tetap mensyukuri penghasilan yang didapat dari melipat kertas pembungkus gorengan.

"Ya Alhamdulillah disyukuri saja. Ngerjainnya juga bisa sambil santai, sambil nonton tv di rumah, buat nambah-nambah pemasukan saja," ujarnya.

Usaha membuat kertas pembungkus gorengan ini rupanya telah menjadi salah satu penyumbang penghasilan warga di desa dengan jumlah penduduk lebih dari 3.800 jiwa ini.

Disaat banyak sektor usaha tidak berjalan di masa pandemi, usaha kertas pembungkus gorengan di Desa Ciherang tetap eksis meski sedikit terkena dampak pandemi COVID-19.

"Di masa pandemi ini tetap jalan usaha bungkus gorengan ini. Usaha ini sudah jadi sambilan para ibu-ibu di Desa Ciherang. Ya alhamdulillah bisa menyumbang penghasilan bagi warga Ciherang," singkat Mardja Kuwu Desa Ciherang.

(mso/mso)