Pengunjung Sepi Imbas Corona, Sejumlah Pedagang di Pasar Baru Jual Kiosnya

Wisma Putra - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 15:17 WIB
Pedagang di Pasar Baru Bandung menjual kiosnya karena sepi pengunjung imbas pandemi COVID-19.
Foto: Pedagang di Pasar Baru Bandung menjual kiosnya karena sepi pengunjung imbas pandemi COVID-19 (Wisma Putra/detkcom).
Bandung -

Sejumlah kios di Pasar Baru Trade Center Kota Bandung ditinggalkan para pemiliknya. Hal itu disebabkan perekonomian di Pasar Baru belum stabil akibat pandemi COVID-19.

Pantauan detikcom, Senin (9/11/2020), di Lantai Basement 1 lebih dari 15 kios milik pedagang ditinggalkan. Ada yang di kontrakan, bahkan dijual. Ada juga yang digunakan sebagai gudang atau tempat penyimpan barang.

Hal itu terjadi juga di lantai lainnya. Belasan hingga puluhan kios ditinggalkan pedagang karena sepinya kunjungan ke Pasar Baru Bandung.

Ketua Himpunan Pedagang Pasar Baru Bandung (HP2B) Iwan Suhermawan mengatakan sebelum pandemi COVID-19 pada Maret lalu, minimnya kunjungan ke Pasar Baru sudah terjadi. Hal itu diakibatkan, karena pengelola yang selama ini dilakukan oleh PD Pasar kurang baik dan tidak ada inovasi yang dibuat sehingga ditinggalkan oleh pengunjung.

Hal itu berdampak pada turunnya pendapatan para pedagang Pasar Baru. Selain itu, para pedagang juga terlilit dengan permasalahan perbankan.

"Dari 5.200 pedagang, hampir 60 persen sudah tidak sanggup lagi berjualan dan berniaga, ada ribuan pedagang yang sudah berhenti. Bukan hanya pedagang, ada ribuan karyawan yang sudah menganggur dan ini perlu penanganan cepat dalam menangani permasalahan ekonomi ini, bukankah Pemerintah Kota Bandung sudah membuat satuan tugas pemulihan ekonomi dan sekarang saatnya sektor rill ini diselamatkan," kata Iwan di Pasar Baru.

Menurutnya, pihaknya saat ini belum mendapatkan sentuhan bantuan dari pemerintah. Kalaupun ada bantuan, seperti kebutuhan pokok kepada pedagang dan karyawan itu dibantu oleh pihaknya bukan dari pemerintah.

"Harapannya ya secepatnya Pemkot Bandung mengevaluasi. Lalu Pemkot Bandung secepatnya PD Pasar menyerahkan pengelolaan Pasar Baru ini kepada pihak ketiga yang lebih profesional. Karena apa selama ini diurus sama PD Pasar bukan hanya sekedar tidak ada kemajuan, tapi Pasar Baru sendiri semakin terpuruk, seperti tidak ada upaya untuk pemulihan agar Pasar Baru bisa ramai lagi seperti semula," jelasnya.

Ia mencontohkan, tidak adanya upaya yang dilakukan PD Pasar melakukan promosi, melakukan perbaikan untuk kemajuan pedagang agar pengunjung bisa datang untuk berbelanja.

"Tidak ada upaya seperti itu. Pasar Baru juga kan bukan untuk hanya memenuhi kebutuhan primer saja, tapikan bisa berwisata belanja di sini dan dibutuhkan pemasaran, iklan dan promosi kepada pihak luar," ucapnya.

Selain karena pengelola yang tidak baik, dampak COVID-19 ini semakin dirasakan seperti diberhentikannya umroh, haji, sekolah dan lainnya yang diketahui kebutuhan barang bisa dipenuhi Pasar Baru tidak ada lagi.

"Satu, yang bisa oleh-oleh untuk umroh dan haji sebagian besar di Indonesia belanja ke Pasar Baru, tidak adanya umroh dan haji otomatis penjual lumpuh. Kedua, dengan sistem belajar dari otomatis ketika ada tahun pelajaran baru, seragam, tas, sepatu yang biasnya pasar se Jabar belanja ke Bandung otomatis tidak ada. Ketiga, ditambah kebijakan daerah dan negara yang lakukan lock down, sehingga untuk pergi ke Pasar Baru ini sangat dibatasi, bahkan tidak boleh," paparnya.

"Akan tetapi, sebelum adanya pandemi Pasar Baru memang pengunjung dan pembeli sudah turun. Sebelum Maret sudah buruk dan sekarang diperparah dengan kondisi pandemi COVID-19," paparnya.

Sementara itu, Sekjen HP2B Yenda menambahkan buruknya sistem parkir menyebabkan pengunjung enggan datang ke Pasar Baru.

"Tidak ada lahan untuk mereka mampir ke Pasar Baru, parkir. Ini ada ketidakmampuan pengelola untuk tempat parkir," ujarnya.

(wip/mso)