Kisah Rinto, Pria di Kuningan yang Raup Rejeki Dari Jinakkan Ular

Bima Bagaskara - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 21:53 WIB
Rinto, warga Desa Windujanten, Kuningan, Jabar, memiliki king cobra ukuran cukup besar. Saking besarnya, orang yang menyebut ular itu sebagai kembaran dari Garaga.
Foto: Bima Bagaskara
Kuningan -

Menjadi penjual mi ayam keliling adalah mata pencarian Rinto (34) pria asal Desa Windujanten, Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Tapi itu ia lakukan sebelum pandemi melanda.

Pasalnya saat awal pandemi Rinto tidak bisa lagi berkeliling menjual mi ayam. Itu karena banyak jalan dan gang perumahan yang ditutup akibat PSBB yang diberlakukan di Kabupaten Kuningan

"Dulunya jualan mi ayam keliling, tapi sejak pandemi banyak gang ditutup. Terpaksa enggak jualan lagi," kata Rinto saat ditemui detikcom dirumahnya Sabtu (31/10/2020).

Untungnya Rinto memiliki kepiawaian lain yakni menjinakkan ular. Atas Kepiawaiannya itu, Rinto kini diminta menjadi petugas keamanan di salah satu komplek perumahan yang lokasinya tidak jauh dari rumah Rinto.

Ia menceritakan awalnya ada sebuah ular yang masuk ke komplek perumahan tersebut. Rinto sendiri sering mangkal di sekitar komplek itu. Saat ada ular masuk, pihak komplek menghubungi Rinto untuk menangkapnya.

"Jadi ada ular masuk ke perumahan di tempat biasa saya mangkal jual mi ayam. Kemudian dari pihak RT telpon katanya ada ular, saya disuruh nangkap," kata Rinto menceritakan.

Setelah berhasil menangkap ular itu, Rinto kemudian diminta untuk menjadi petugas keamanan sampai saat ini. Hal itu sangat disyukuri Rinto karena sudah tidak lagi menjadi penjual mi ayam keliling.

"Ya alhamdulillahnya setelah nangkap ular saya diminta jadi petugas keamanan. Bersyukur sekali awalnya hanya niat membantu tapi jadi rezeki buat saya," ungkapnya.

Rinto juga sering menerima panggilan menangkap ular. Meski tidak pernah meminta bayaran namun kata dia ada saja orang yang memberi uang transport.

Selain itu terkadang Rinto dan rekannya menerima panggilan jika ada acara-acara untuk atraksi ular. Namun sejak pandemi dan kegiatan keramaian dilarang, atraksi ular sudah jarang Ia tampilkan.

Ular sudah menjadi sahabat bagi pria satu anak ini. Ia mengaku sudah sejak usia delapan tahun mulai menyukai reptil melata ini.

"Sejak usia delapan tahun suka terhadap ular, dulu nyari di sawah terus dibawa pulang. Dilepasin lagi, nyari lagi. Awalnya dilarang orang tua karena khawatir mungkin, tapi ya karena sayanya bandel tetep mau melihara ular jadi sampai sekarang," ujar pria yang akrab disapa Rentul ini.

Saat ini di rumahnya, terdapat belasan ekor ular mulai dari yang tidak berbisa hingga berbisa tinggi seperti king cobra, bahkan ada tiga ekor.

Yang menarik, dari tiga king cobra yang dipelihara Rinto ada satu ekor ular yang diberi nama Covid. Covid ini memiliki ukuran yang tergolong cukup besar, panjangnya mencapai kurang lebih 4 meter dengan bobot 11 kilogram.

Saking besarnya, banyak orang yang menyebut ular itu sebagai kembaran dari 'Garaga', king cobra milik Panji Petualang yang sempat bikin heboh karena ukurannya yang sangat besar itu.

"Saat ditemukan panjangnya empat meter kira-kira, beratnya sekitar 11 kilogram. Kalau sama Garaga ya hampir mirip ukurannya tapi tetap besaran Garaga," kata Rinto.

Bahkan Rinto juga mulai mengembangbiakkan beberapa ular jenis.

"Ular yang dikembangbiakkan itu jenis ular hijau bakau, ular gonyoshoma sama ular cincinmas dan juga ular koros. Alhamdulillah sudah ada beberapa yang bertelur dan menetas," lanjutnya.

Rinto juga mengungkapkan alasannya memelihara ular. Ia ingin memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya di sekitar tempat tinggalnya bahwa ular itu bisa hidup berdampingan dengan manusia.

"Karena ingin mengedukasi masyarakat bahwa ular ini bisa berdampingan dengan manusia. Anak-anak di sini boleh memegang ular yang tidak berbisa, tapi tetap diawasi. Untuk yang berbisa saya tidak izinkan megang," pungkasnya.

(ern/ern)