Warga Subang Berhasil Manfaatkan Bonggol Jagung untuk Budidaya Jamur

Dian Firmansyah - detikNews
Minggu, 25 Okt 2020 15:01 WIB
Warga Subang budidaya jamur dari media bonggol jagung.
Foto: Dian Firmansyah
Subang -

Di tengah pandemi COVID-19 ada banyak warga kehilangan pekerjaan hingga harus berdiam diri di rumah. Namun kondisi tersebut bukan berarti tidak bisa berkreasi dan menghasilkan pundi-pundi uang.

Contohnya saja seperti sekelompok warga di Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang yang berhasil melakukan budidaya jamur di media bonggol jagung. Mereka memanfaatkan limbah bonggol jagung dan menjadikannya pundi-pundi rupiah yang menjanjikan.

"Bagaimana cara mengatasi diam di rumah karena pandemi Corona setelah berhenti bekerja. Saya berpikir keras, dari semenjak saya menanam jagung kebetulan orang tua petani, jadi bagaimana cara memanfaatkan limbah jagung tersebut. Dari pada dibuang saya coba cari di internet bagaimana membuat budidaya jamur, terus saya coba di janggel jagung ini," kata Toto, salah satu penggagas jamur bonggol jagung, ditemui di rumahnya, Minggu (25/10/2020).

Toto sulap pekarangan rumahnya untuk dijadikan lahan menyimpan kumbung jamur. Pantauan detikcom sedikitnya ada 8 kumbung yang ada, ukuran satu kumbung idealnya memiliki lebar satu meter sedangkan panjang tergantung kebutuhan dan lahan.

Sementara proses bercocok tanam cukup sederhana. Menurut Toto yang harus di perhatikan adalah ketika proses perawatan hingga panen.

Diawali dengan menebar janggel atau bonggol jagung, satu buah karung ukuran 75 Kg, cukup untuk kumbung ukuran lebar satu meter dan panjang empat meter. Janggel di tebar merata dan dipadatkan. Jika kumbung baru diisi janggel maka harus dua kali lipat isi janggel jagungnya, namun jika kumbung sudah pernah panen cukup satu karung saja.

Setelah kumbung terisi janggel jagung, kemudian siapkan racikan dedak padi lembut, pupuk urea dan ragi. Racikan diaduk merata dan ditebar ke janggel jagung tadi. Proses terakhir penyiraman, berskala hari janggel jagung harus rajin disiram dan ditutup rapat oleh plastik agar terus tumbuh serta terhindar dari hama.

"Uji coba pertama saya sampe salah beberapa kali, uji coba pertama saya melakukan kumbung dengan plastik semua tidak pakai karung, yang kedua pas waktu panen tidak panen akibat salah karena ada racikan tertentu yang harus di olah atau di tabur ke janggel jagung, untuk berhasil percobaan ke empat, ternyata setelah di teliti saya harus mengenal dulu apa itu jamur bagaimana cara jamur tumbuh dan terkahir cara perawatan, ternyata perawatan sangat sensitif, kalo kita tidak telaten pasti jamur pada mati," ungkap Toto.

Bahan utama limbah janggel jagung selain didapat dari lingkungan sekitar, ada yang harus di beli dari wilayah Jawa tengah. Satu karung ukuran 75 Kg seharga Rp 25 ribu sudah sampai rumah.

Setelah proses tanam minimal dua pekan, jamur sudah tumbuh di janggel jagung dan siap panen. Satu kumbung dapar menghasilkan 2 Kg jamur.

Bukan tanpa kendala ketika awal melakukan budidaya jamur, masyarakat ketakutan akan keamanan mengkonsumsi ini. Tetapi sekarang sudah banyak yang mengkonsumsinya.

"Saya jual jamur satu kilo Rp 40 ribu, kalo di antar. Tapi kalo diambil ke rumah bisa kurang. Alhamdulillah animo masyarakat tinggi jadi sejauh ini pemasaran masih di sekitar sini," ujarnya.

(mso/mso)