Jabar Hari Ini: Penabrak Mobil Hanafi Rais Terlacak-Kisah Kembar Trena Treni

Tim detikcom - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 20:02 WIB
Aplikasi TikTok mempertemukan si kembar Trena Treni yang 20 tahun terpisah. Mereka terpisah akibat adanya konflik Ambon pada 1999.
Kembar Trena Treni (Foto: Tangkapan Layar)
Bandung -

Jejak penabrak mobil yang ditumpangi Hanafi Rais mulai terendus. Selain itu, ada pula kabar haru dari kembar yang dipertemukan TikTok usia 20 tahun terpisah.

Berikut rangkuman berita dalam Jabar hari ini:

Polisi Kantongi Identitas Penabrak Mobil Hanafi Rais di Cipali

Bandung - Polisi masih menyelidiki insiden tabrakan beruntun yang membuat Hanafi Rais mengalami luka. Polisi mengaku sudah mengantongi identitas penabrak mobil Hanafi hingga terjadi tabrakan beruntun.

"Ini identitas sudah kita ketahui dari penyelidikan satlantas polres Subang, nanti mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa terungkap," ujar Kabid Humas Polda Jabar Kombes Erdi A Chaniago di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Senin (19/10/2020).

Insiden kecelakaan itu terjadi di ruas tol Cipali kilometer 112.900 tepatnya di Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang, Jabar, pada Minggu (18/10/2020) dini hari pukul 03.00 WIB. Hanafi berada di mobil Toyota Alphard berwarna putih yang dikemudikan oleh seorang pria bernama Ferdian.

Dalam insiden itu, mobil Hanafi ditabrak dari belakang. Mobil Hanafi pun kemudian terpental dan menabrak bagian belakang sebuah truk. Ironisnya, penabrak maupun yang ditabrak kabur.

Erdi mengatakan polisi sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi kejadian. Polisi juga akan menyelidiki kasus ini untuk mendapatkan penabrak mobil Hanafi.

"Satlantas Polres Subang itu melakukan penyelidikan mundur, istilahnya, melihat kembali mulai dari masuk tol dan sebagainya, di kilometer berapa, kemudian kita lihat dari CCTV," tutur Erdi.

Seperti diketahui, Hanafi Rais menjadi korban tabrakan beruntun di Tol Cipali. Akibat kecelakaan itu, Hanafi sempat dirawat intensif di RS Thamrin, Purwakarta.

Kisah Haru Kembar Terpisah 20 Tahun Dipertemukan Lewat TikTok

Kehadiran Teknologi ternyata bisa membawa banyak manfaat jika digunakan positif. Bahkan, kejadian yang mustahil saja bisa terjadi dengan kecanggihan teknologi.
Hal ini dirasakan dua anak Kembar Trena Mustika (24) warga Sukamaju Kaler, Indhiang, kota Tasikmalaya, Jawa Barat dan Treni Fitri Yana (24) warga Kademangan, Blitar, Jawa Timur. Mereka memiliki kesempatan untuk dipertemukan setelah 20 tahun terpisah.

Bukan melalui pencarian manual, Trena dan Treni akhirnya menyadari memiliki saudara kembar melalui aplikasi TikTok. Treni ternyata gemar melakukan TikTok hingga akhirnya diketahui tetangga Trena yang merupakan kakak kandungnya.

"Saya awalnya tau dari tetangga. Kok bisa kamu Tiktok sambil bawa anak. Ah saya gak ngerasa Tiktok, coba sini lihat ternyata mirip banget sama saya. Kalau saya sudah pikir ini adik saya yang hilang karena bapak ngasih tau. Nah kalau Treni di Blitar gak tau," kata Trena Mustika ditemui di kediaman orang tuanya.

Bahkan, diakui Trena dirinya juga sempat berpisah dengan keluarga karena dititip di Salah seorang warga Garut.

"Jadi saya juga gak langsung diurus bapak. Jadi saya dititip di ustad Ibrahim dari Garut. Nah Trini di titip di ibu rini," jelas Trena.

Di samping rasa bahagia, Trena mengaku menyimpan haru dan kesedihan yang cukup mendalam. Pertemuan keduanya, justru terjadi setelah ibu kandung kedua anak kembar ini sudah wafat. Almarhum Nonok Rohaenah tidak bisa menyaksikan pertemuan anak kembarnya.

"Ada yang bikin haru itu, kami mau ketemu tapi ibu sudah gak ada. Itu yang saya sedih," pungkas Trena.

Diakui Enceng Dedi (57) ayah kandung Trena dan Treni, anak kembarnya pisah saat konflik di Ambon. Ia menitipkan anaknya pada seorang warga namun akhirnya hilang kontak.

"Alhamdulillah senang sekali pak anak saya yang hilang lama puluhan tahun ketemu lagi melalui aplikasi ini. Bersyukur pak," tutur Enceng ditemui di rumahnya, Senin (19/10/2020).

Kini dua anak kembar akan kembali dipertemukan di darat. Rencananya, Treni akan berangkat dari Blitar rabu (21/10/2020).

Tarif Swab Tes di Atas Rp 900 Ribu, Warga Diminta Lapor

Tarif swab test atau Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) tertinggi secara mandiri di rumah sakit sudah ditentukan sebesar Rp 900 ribu. Berdasarkan Surat Edaran Kementerian Kesehatan nomor HK.02.02/I/3713/2020 tentang Batas Tarif Tertinggi Pemeriksaan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Rita Verita mengatakan, apabila masyarakat mendapati harga di atas surat edaran tersebut, maka dapat mengajukan laporan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung.

"Kalau ada yang lebih warga bisa lapor melalui Dinkes," ujar Rita di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Senin (19/10/2020).

Lebih lanjut, semenjak surat edaran tersebut dikeluarkan pihaknya belum menerima aduan soal biaya swab test mandiri yang melebihi Rp 900 ribu. "Kalau ada yang lebih tentunya kami ingatkan itu sudah resmi dari edaran kemenkes harus sama," ujarnya.

Dia mengatakan, jika ada yang melebihi harga tertinggi, Dinkes belum mengambil tindakan hingga pemberian sanksi. "Tidak sampai sanksi kalau ada laporan melebihi setidaknya harus sesuai edaran Setelah nerima surat edaran mereka menyesuaikan," imbuhnya.

Namun, tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak rumah sakit atau faskes yang menyediakan swab test lebih dari harga tertinggi atau Rp 900 ribu.

"Belum ada yang ditegur, tidak tahu kalau ada yang nakal ya, tapi tidak menutup kemungkinan mungkin ada saja (melebihin Rp 900 ribu)," katanya.

Sementara itu, Rita menjelaskan, swab test diutamakan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan ke daerah rawan COVID-19 dan mengeluarkan gejala.

"Tracing dilakukan bagi yang bergejala, kalau yang tidak bergejala di karantina. Sesudah karantina sesuai pedoman tidak usah swab lagi karena selama 14 hari virus mati dan tidak menularkan," pungkasnya.

Ketua NU Karawang Minta Maaf Lakukan Black Campaign ke Cellica-Aep

Ketua NU Karawang Ahmad Ruhyat Hasby menyampaikan permintaan maaf karena telah menuduh lima kiai telah menerima uang dari pasangan calon petahana Cellica Nurrachdiana-Aep. Ia mengaku tuduhannya tidak berdasar sama sekali.
"Saya sampaikan permohonan maaf dari hati yang paling dalam atas kekhilafan saya menyebut beliau (lima kiai) menerima bantuan Rp 250 juta dari Paslon nomor 2 yang saya posting di WAG MWC NU Karawang yang bocor ke publik," ujar Ahmad yang akrab dipanggil Uyan melalui pesan singkat pada detikcom, Senin (19/10/2020).

Ia mengaku telah keliru membuat narasi yang menuding Cellica-Aep dan PKS menebar uang saat sowan ke 5 Kiai NU. "Saya akui itu kesalahan fatal yang saya lakukan, karena yang saya tulis itu tidak berdasar sedikitpun," kata Uyan.

Sebelumnya Uyan menuduh pasangan Cellica-Aep dan PKS telah memberikan uang pada lima kiai di Karawang saat sowan. Lima kyai NU yang dituding mendapat uang dari Cellica Aep adalah Kyai Ujang Badruddin dari Ponpes Nurusalam di Medang Asem, Kyai Wawan Jarakah, pengasuh Ponpes Baitul Burhan di Tempuran, Kyai Tatang Syihabuddin, pengasuh Ponpes Annihayah di Rawamerta, Kyai Abdul Goni Maruf, pengasuh Ponpes Alhidayah, Rawamerta dan Kyai Agus, dari Ponpes Sabilul Khair, Manggung Jaya Cikul.

Tudingan itu langsung dibantah Kiai Ahmad Tatang Syihabuddin, Kepala Pondok Pesantren Annihayah, Rawamerta, Karawang saat dikonfirmasi via telepon, Sabtu (17/10/2020). "Kiai Uyan kami nilai telah mencemarkan nama baik pesantren dan NU. Kami tidak pernah menerima uang dari pasangan calon manapun," tegasnya.

Tudingan itu juga dibantah tim pemenangan Cellica-Aep. "Mana buktinya? Paslon Cellica-Aep tak pernah membeli suara warga pesantren melalui Kiai," kata Dian Fahrud Jaman, dari Tim Pemenangan Cellica-Aep kepada detikcom, Senin (19/10/2020).

Sementara itu Pakar komunikasi dari Universitas Singaperbangsa Karawang menilai Ketua NU Karawang Ahmad Ruhyat Hasby alias Uyan telah melakukan kampanye hitam.

"Sebab Kiai Uyan menuding lawan politik adiknya tanpa menyertakan bukti baik foto atau video," kata Eka Yusup, pakar Komunikasi Politik Unsika kepada detikcom, Senin (19/10/2020).

Apalagi, kata Eka, informasi yang disebar Uyan adalah politik uang, suatu perilaku tercela dalam pemilu. Kampanye hitam yang dilakukan Uyan, menurut Eka secara tidak langsung bakal berdampak negatif kepada pasangan Ahmad Zamakhsyari alias Jimmy dan Yusni Rinzani. Diketahui Jimmy merupakan adik kandung Uyan.

"Imbasnya bakal negatif kepada Jimmy-Yusni, karena Uyan yang menyeru supaya adiknya Jimmy dipilih tak bisa membuktikan tudingannya. Masyarakat Karawang sudah pandai dan mampu menilai," ujar Eka.

Kecuali, kata Eka, Uyan mampu menyertakan bukti jika Cellica-Aep menebar uang ke 5 Kiai NU. "Jika Kiai Uyan mengungkapkan buktinya, maka itu akan jadi pukulan telak kepada Cellica-Aep," kata Eka.

Klaster Ponpes Tasikmalaya Membludak

Kasus Covid-19 klaster Pondok Pesantren di Kabupaten Tasikmalaya mengalami lonjakan. Berdasarkan data Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya klaster pondok pesantren tercatat lebih dari 200 orang.
"Tidak hanya satu pesantren yah, ada beberapa pesantren. Total keseluruhannya lebih dari 200 orang terkonfirmasi positif Covid-19," ucap Muhammad Zein, Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 di kantornya, Senin (19/10/2020).

Kebanyakan kasus konfirmasi Positif ini merupakan santri yang tidak memiliki gejala. Mereka yang terkonfirmasi positif tanpa gejala akhirnya jalani isolasi mandiri di Pondok Pesantren.

Selain melibatkan pemerintah daerah, satuan tugas internal pondok pesantren turut andil juga dilibatkan dalam perawatan santri di lingkungan pondok.

"Jadi yang otg ini tidak dirawat di rumah sakit. Dia dibiarkan isolasi mandiri di lingkungannya agar tidak stress dan tidak turun imunnya. Kecuali yang bergejala kita bawa ke rumah sakit," jelas Zein.

Sementara itu, Data berbeda justru ditunjukkan pihak Pondok Pesantren Cipasung. Data sementara, kasus konfirmasi Covid-19 yang tercatat di Pondok Pesantren ini mencapai 340 orang.

"Terbaru hari ini keluar hasil lab nya, ada 39 hari ini. Yang total hampir 340 orang," ungkap Haryadi, Ketua Relawan Covid 19 Pondok Pesantren Cipasung.

Dari sekian banyak santri yang terpapar, 130 orang di antaranya sudah dinyatakan sembuh atau negatif. Mereka diperbolehkan pulang ke rumah masing masing untuk lanjutkan isolasi mandiri.

"Alhamdulillah 130 sehat dan bisa pulang dengan ditandai surat pengantar dari rumah sakit. Kami minta masyarakat kalau ada santri Cipasung pulang jangan dikucilkan. Mereka sudah sembuh kok sudah negatif. Memang masih harus isolasi mandiri di rumahnya," ujar Haryadi.

(mud/mud)