Tantangan Paslon Bupati Bandung Kampanye Online di Tengah Pandemi

Muhammad Iqbal - detikNews
Senin, 28 Sep 2020 20:35 WIB
Ilustrasi Fokus Nasib Pilkada Langsung (Andhika Akbaransyah)
(Foto: Ilustrasi Fokus Nasib Pilkada Langsung (Andhika Akbaransyah)
Bandung -

Masa kampanye Pilkada Serentak 2020 sudah masuk hari ketiga. Di tengah masa pandemi ini pun setiap pasangan calon harus melakukan kampanye secara online.

Salah dua dari tiga pasangan di Pilkada Kabupaten Bandung pun harus berpikir keras di masa kampanye yang beriringan dengan pandemi ini.

Salah satunya pasangan Kurnia Agustina bersama dengan pasangannya Usman Sayogi. Nia mengaku kampanye online menjadi tantang tersendiri bagi dirinya.

"Nah itu tantangan dengan kita dan harus kita pecahkan bersama sama," ujar Nia usai kunjungannya ke beberapa media di Bandung, Senin (28/9/2020).

Ia belum begitu menjabarkan bagaimana strategi pasangan nomor urut satu itu saat kampanye online. Apalagi strategi yang jitu untuk menghadapi kampanye online.

"Kita terbatas dari ruang dan waktu di era pandemi ini. Media elektronik, media massa dan media sosial ini salah satu solusi yang harus maksimalkan," tuturnya.

Di lain pihak, pasangan nomor urut 3, Dadang Supriatna dan Sahrul Gunawan pun terus menggodok strategi seperti apa yang cocok diterapkan di saat masa kampanye online.

Dadang mengaku, dirinya amat terbantu dengan sejumlah media sosial yang dapat menghubungkan dirinya dengan para pendukungnya. Meski demikian, baginya kampanye kepada warga Kabupaten Bandung tidaklah cukup hanya dengan online.

"Saya kira zoom meting dan video call ini lebih efektif, tapi memang masyarakat kabupaten Bandung ini berharap untuk bisa tatap wajah. Nah ini persoalan, karena saya belum begitu memahami tentang isi PKPU yang baru terhadap Covid," ujar Dadang.

Ia meminta agar KPU dapat memberikan solusi yang tepat dengan menyesuaikan kondisi di Kabupaten Bandung. Pasalnya, Kabupaten Bandung terdiri dari 31 kecamatan yang di beberapa daerahnya masih kesulitan untuk bisa mengakses jaringan internet.

"Saya kira kalau sampai tidak diperbolehkan sama sekali akan bingung juga yah. Tentunya kan harus ditentukan mana saja yang boleh, mana yang tidak boleh terus apakah ada sanskinya ini harus dipertegas," ujarnya.

"Harus ada perubahan-perubahan yang kondisional. Gak bisa hanya terpatok begitu saja," tambahnya.

(mud/mud)