Evaluasi KBM Tatap Muka di Jabar, Disdik: Hanya 50 Sekolah yang Diizinkan

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 02 Sep 2020 17:40 WIB
Poster
Ilustrasi KBM tatap muka (Foto: Edi Wahyono)
Bandung -

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat (Disdik Jabar) Dedi Supandi mengatakan, jumlah sekolah tingkat SMA/SMK yang diperbolehkan menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka berkurang. Dari 71 sekolah, kini hanya 50 sekolah yang masih diperbolehkan melaksanakan KBM tatap muka.

Hal itu berkaitan dengan penambahan angka kasus positif COVID-19 di sejumlah kabupaten/kota, sehingga menggoyang kestabilan zona hijau yang menjadi salah satu syarat boleh digelarnya KBM tatap muka. Evaluasi izin pun dilaksanakan selama dua pekan sekali dengan memantau dinamika wabah pada level kecamatan.

"Per kemarin, daftar sekolah yang tatap muka itu turun menjadi 50 dalam dua pekan kemarin," ujar Dedi di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (2/9/2020).

"Kestabilan dari zonasi hijau di kecamatan yang terdapat kasus (COVID-19) ini juga sama menurunya dari 228 kecamatan, sekarang tinggal 190-an," ujar Dedi melanjutkan.

Sedianya KBM tatap muka mulai dibuka kembali pada 18 Agustus yang lalu di wilayah dengan zona hijau, pembukaan sekolah pun dilakukan secara bertahap dengan menimbang fasilitas pencegahan COVID-19 dan konektivitas internet di sekolah tersebut.

"Kemarin itu kan ada 71 sekolah, dari 71 sekolah itu ada yang sudah mendapatkan rekomendasi gugus tugas dari pemerintah setempat, dan ada juga yang belum mendapatkan rekomendasi. Ada juga yang sudah melaksanakan swab test bagi pengajarnya, dan ada juga yang belum. Jadi 71 yang diizikan itu, pembukaanya paralel," ujar Dedi di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (2/9/2020).

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, awalnya terdapat sejumlah sekolah di Kota Cimahi dan Kabupaten Majalengka yang sudah siap menggelar KBM tatap muka, namun urung dilakukan karena guru yang akan mengajar terkonfirmasi positif COVID-19 lewat swab test.

"Contoh Cimahi melaporkan dari 3 ribu yang akan dites, baru 200-an sekian yang dites, dan sudah ada 13 guru yang terpapar positif COVID-19. Maka rencana Cimahi di zona hijaunya itu kita batalkan. Nah inilah yang kami maksud, semua keputusan harus berdasarkan parameter yang terukur, pada saat keterukurannya gagal maka risiko itu kita berhentikan, dan kita tidak izinkan tapi kepada yang masih mungkin kita akan monitor terus," ujarnya.

(yum/mud)