Air Tercemar Proyek Kereta Cepat, Warga Bandung Barat Mengeluh Gatal-gatal

Whisnu Pradana - detikNews
Rabu, 02 Sep 2020 14:14 WIB
Warga sekitar proyek KCIC mengeluhkan mengalami gangguan kesehatan
Warga sekitar proyek KCIC mengeluhkan mengalami gangguan kesehatan (Foto: Whisnu Pradana)
Bandung Barat -

Proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus memberikan dampak negatif untuk warga yang berdomisili di area proyek pembangunan.

Salah satunya dirasakan oleh warga Kampung Batupande, RT 02/RW 10, Desa Puteran, Kecamatan Cikalongwetan, KBB. Warga tersebut terdampak polusi debu dari aktivitas hilir mudik truk pengangkut material.

Ida (40) warga setempat, mengungkapkan debu-debu putih seperti salju itu beterbangan tertiup angin dan saat truk melintas hingga menyebabkan warga merasakan gatal-gatal.

"Iya terdampak polusi debu, warga di sini banyak yang mengeluhkan gatal-gatal. Karena kan menempel di kulit. Rata-rata ibu-ibu sama anak-anak," ungkap Ida saat ditemui, Rabu (2/9/2020).

Namun Ida mengaku warga di lingkungannya tidak mendapatkan Kompensasi Dampak Negatif (KDN) padahal sangat terganggu akibat polusi debu tersebut.

"Kalau kompensasi enggak dapat, tapi katanya sudah ada yang dipilih jadi perwakilan dan cuma orang itu yang menerima kompensasinya," tuturnya.

Tak hanya debu saja, warga di kampung sebelah tepatnya Kampung Sukamanah, juga merasakan dampak negatif dari pembangunan KCJB. Linda, warga Kampung Sukamanah, juga merasakan gatal-gatal lantaran air yang biasanya dipakai untuk mandi tercemar limbah semen.

"Beberapa hari lalu memang air yang biasa dipakai mandi dan mencuci itu tercemar limbah semen dari kereta cepat, jadi keruh. Kalau ke kita yang menggunakan memang jadi gatal-gatal juga," ucapnya.

Kepala Desa Puteran Yandi Hadiyana membenarkan jika warganya menjadi korban dampak negatif pembangunan kereta cepat dari pencemaran aliran air dan debu dari lokasi proyek.

"Iya ada, kalau yang aliran airnya tercemar itu ada di sekitar 3 RW, lebih dari 100 warga. Jadi memang semua yang terdampak mengeluhkan gatal-gatal. Kalau sesak nafas sih kita belum dapat laporan," katanya.

(mud/mud)