143 Dusun di Sumedang Belum Punya Akses Jaringan Internet

Muhamad Rizal - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 21:39 WIB
Menara BTS dan Antena TV. 
dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Ilustrasi (Foto: Dikhy Sasra)
Sumedang -

Sejumlah daerah Kabupaten Sumedang hingga saat ini masih ada yang belum tersentuh jaringan internet. Sedikitnya ada 143 dusun yang tersebar di 20 kecamatan belum memiliki akses jaringan internet.

Salah satu penyebabnya adalah faktor geografis wilayahnya yang masih sulit untuk menjangkau jaringan internet.

Kabid Informatika, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sumedang, Mamat Rohimat mengatakan, dari 143 dusun itu kebanyakan wilayahnya berada tepat di pegunungan dan lembah.

"Karena sinyal telekomunikasi itu tidak bisa menembus gunung dan sulit juga di daerah lembah," kata Rohimat saat ditemui di kantor Diskominfo Kabupaten Sumedang, Senin (31/8/2020).

Dari 143 dusun yang saat ini masih sulit mendapat jaringan internet di antaranya, ada Kecamatan Wado Desa Cimungkal, Desa Ganjaresik, dan Desa Sukajadi.

Kemudian, ada di Kecamatan Jatinunggal Desa Cimanintin, Kecamatan Cibugel Desa Cibugel, Kecamatan Cisitu Desa Cimarga, Kecamatan Siturana Desa Bambayang, dan sejumlah daerah lainnya.

"Di daerah itu ada blank spot, ada juga yang sinyal buruk dan sinyal lemah. Jadi, tetap saja warganya susah untuk mengakses internet," katanya.

Kata Rohimat, berdasarkan hasil pemetaan, daerah itu tetap tidak bisa menjangkau internet meskipun sudah ada beberapa menara telekomunikasi.

"Ada yang dekat (menara telekomunikasi), tapi tidak terkoneksi dengan jaringan internet, tapi daerah yang jauh bisa menjangkau (internet)," ucap Rohimat.

Rohimat mengaku sebelumnya pihaknya sudah berkoordinasi dengan beberapa provider terkenal dan menawarkan kerjasama untuk memasang menara telekominkasi.

"Kami sudah tawarkan ke mereka, tapi tetap perhitungannya ekonomi dan bisnis. Jadi, mereka harus mempertimbangkan dan melihat jumlah penduduk yang akan menjadi pelanggan," katanya.

Menurutnya provider itu bisa saja mengupayakan dengan maksimal agar daerah yang sulit internet bisa terjangkau, tetapi membutuhkan anggaran biaya yang sangat besar.

"Tapi nanti bakal ada kendala dalam langganan bulanannya karena untuk satu juta pelanggan itu hanya bisa digunakan untuk beberapa hari saja," ucapnya.

Terlait alternatif ini, pihaknya sudah meminta bantuan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk meminta alat untuk mengambil sinyal langsung dari satelit tersebut.

"Jadi, upaya ke depannya paling hanya alternatif saja seperti mengambil sinyal langsung dari satelit. Tapi memang itu membutuhkan biaya yang besar," kata Mamat.

(mud/mud)