Mantul! Pria Bandung Barat Sulap Sampah Plastik Jadi Paving Block

Whisnu Pradana - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 17:48 WIB
Pria Bandung Barat sulap sampah plastik jadi paving block
Pria Bandung Barat sulap sampah plastik jadi paving block (Foto: Whisnu Pradana)
Bandung Barat -

Sampah plastik bekas bungkus makanan dan minuman ringan yang tak ada nilai ekonomisnya bisa disulap menjadi produk berdaya guna dan bernilai jual di tangan orang kreatif.

Di tangan Toni Permana (41), warga Kampung Sukamaju, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, sampah plastik itu bisa didaur ulang menjadi sejumlah produk, salah satunya paving block. Padahal biasanya paving block berbahan dasar pasir dan semen.

"Betul saya dan warga lainnya membuat paving block dari sampah plastik yang sudah tidak terpakai. Misalnya dari bungkus mie, kopi, permen yang tidak lagi bisa dimanfaatkan," ungkap Toni saat ditemui, Senin (31/8/2020).

Toni yang juga merupakan Ketua RW setempat serta inisiator bank sampah Kampung Sukamaju bercerita jika ide awal membuat paving block tersebut saat melihat warga Jawa Tengah membuat produk yang sama beberapa waktu lalu.

"Awalnya lihat warga di Jawa Tengah membuat paving block dari sampah plastik juga, akhirnya saya berpikir kenapa saya engga bikin itu juga. Kemudian saya ajak warga lain dan ya berjalan sampai sekarang. Difasilitasi bank sampah juga," ujarnya.

Proses pembuatan paving block tersebut semuanya masih secara manual. Mulai dari mencacah sampah plastik, membakar, mencetak, hingga paving block selesai dan siap digunakan.

Semua alat yang digunakan pun ia buat sendiri seperti alat pencacah plastik, tunggu memasak plastik, alat press, hingga cetakan memanfaatkan barang bekas yang ada di bengkel las miliknya.

"Pembuatan paving block secara manual. Apalagi alat-alatnya pun saya buat sendiri, seperti alat press saya bikin dari dongkrak mobil diberi rangka, terus cetakan saya bentuk segi enam dari besi di bengkel. Ya manfaatkan barang sisa yang ada," jelasnya.

Untuk membuat paving block, diawali dengan mencacah sampah plastik. Kemudian cacahan itu dimasukkan ke panci untuk dimasak di tungku yang membara. Ditambah oleh sekam atau bubur gergaji. Setelah diaduk, kemudian campuran yang meleleh itu dituangkan ke cetakan paving block kemudian dipress.

"Kalau sudah selesai dipress terus cetakannya dicelupkan ke air untuk didinginkan. Ya sekitar 15 menit, bisa juga lebih. Kalau sudah dingin ya tinggal dikeluarkan dari cetakan dan jadi paving blocknya," ucapnya.

Paving block sampah itu sudah diuji oleh beberapa universitas dan hasilnya sangat layak digunakan. Ia sudah pernah mengaplikasikan produknya itu di jalan gang dan taman.

"Sudah teruji juga. Sempat ada yang pesan dari luar daerah untuk dipasang di taman dan jalan gang, alhamdulillah klien puas," katanya.

Namun ia dan warga lain yang terlibat dalam proyek tersebut masih belum bisa memproduksi paving block secara massal. Dal sehari ia hanya mampu menghasilkan 15 pcs paving block sampah plastik dengan harga Rp 220 per meter.

"Kalau untuk produksi massal masih belum sanggup, karena terkendala peralatan. Maksimal itu hanya 15 pcs sehari. Harganya per meter atau 25 pcs itu Rp 220 ribu. Ya mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah," tandasnya.

(mud/mud)