Angin Berhembus Kencang di Bandung Raya, Ini Penjelasan BMKG

Whisnu Pradana - detikNews
Kamis, 27 Agu 2020 10:23 WIB
Kepala BMKG Bandung Tony Agus Wijaya
Kepala BMKG Bandung Tony Agus Wijaya (Foto: Istimewa).
Bandung Barat -

Beberapa hari terakhir wilayah Bandung dan sekitarnya dilanda angin cukup kencang disertai cuaca yang terasa sangat terik dan panas pada siang hari. Sedangkan pada malam hari udara terasa lebih dingin.

Kecepatan angin pada siang hari berkisar di atas 25 km/jam dengan suhu bisa mencapai lebih dari 27 derajat sementara pada malam hari maksimal hanya 21 derajat selsius.

Menanggapi fenomena alam tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung menyatakan bahwa angin kencang yang melanda wilayah Bandung merupakan hal yang wajar karena sedang memasuki puncak musim kemarau.

"Perihal angin kencang pada saat puncak musim kemarau seperti saat ini memang wajar, karena perbedaan tekanan yang mencolok antara benua Australia (tekanan tinggi), dan Benua Asia (tekanan rendah)," kata Kepala BMKG Bandung Tony Agus Wijaya, Kamis (27/8/2020).

Berdasarkan data dari bagian Data dan Informasi (Datin) Stasiun Geofisika Bandung, kecepatan angin tertinggi terjadi pada hari ini mencapai 20 knot atau sekitar 37 km/jam. Sedangkan normalnya, kecepatan angin di wilayah Bandung Raya berkisar antara 0-20 km/jam

"Berdasarkan data dan model yang BMKG gunakan, untuk wilayah Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, kondisi ini berpeluang terjadi hingga akhir bulan Agustus nanti," bebernya.

Saat ini, sebagian wilayah di Bandung Raya mulai dilanda kekeringan ditandai dengan mulai mengeringnya sumber air warga terutama PDAM.

"Kalau kekeringan mungkin sudah terjadi di sebagian wilayah, tapi kondisinya tidak terlalu para seperti tahun sebelumnya. Kalau tahun ini terbilang normal," jelasnya.

Pada puncak musim kemarau ini, masyarakat diimbau untuk melakukan berbagai antisipasi yaitu dengan menjaga agar tubuh tidak dehidrasi caranya banyak minum air putih.

"Kemudian, selalu menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh karena gangguan debu dan polusi udara lebih meningkat. Selain itu berhemat dalam penggunaan air bersih untuk keperluan sehari-hari," ujarnya.

(mso/mso)