Kasus Penggelapan Mobil Rental Selama Pandemi Meningkat 25 Persen

Yudha Maulana - detikNews
Senin, 24 Agu 2020 18:19 WIB
penggelapan mobil rental meningkat selama pandemi
Foto: Yudha Maulana
Bandung -

Kasus penggelapan mobil yang menimpa para pengusaha rental kian marak di masa pandemi COVID-19. Tahun ini jumlahnya meningkat hingga 25 persen.

Tim Buser Rentcar Nasional (BRN) mencatat biasanya seribu kasus penggelapan per tahun. Ketua Umum Komunitas Buser Rentcar Nasional (BRN) Sulaiman Zuhri menyebut, jumlah kasus ini meningkat sebanyak 25 persen dari tahun-tahun sebelumnya.

Sulaiman mengatakan, modus yang marak digunakan adalah meminjam mobil ke luar kota lalu digadaikan oleh oknum peminjam. "Di masa pandemi ini peningkatan kasus meningkat 25 persen. Satu kasusnya satu hari satu atau dua mobil, kadang tiga hari. Sekarang di masa pandemi tiap hari ada, ini berdasarkan data BRN nasional," ujar Sulaiman, Senin (24/8/2020).

Ia mengatakan, pertahunnya BRN menangani hingga 1.000 kasus berkaitan dengan mobil sewaan ini. Hal inilah, ujar Sulaiman, BRN dibentuk untuk menangani masalah tersebut.

"BRN lebih mengatasi permasalahan mobil, misalnya pencurian, tergadai. BRN ini lebih mempercepat penyelesaian kasus secara efektif dan efisiensi bila mobil bermasalah. Contoh mobil pemilik di Kota Bandung, setelah dicek ada di Palembang, maka tidak perlu orang Bandung ini ke Palembang, nanti tim dari Palembang yang akan mengecek apakah mobil tersebut dicuri, digadai atau bagaimana," jelasnya.

Sebelum BRN dibentuk, ujar Sulaiman, pengusaha rental mobil harus menghabiskan waktu dan kocek yang tak sedikit. Pasalnya, proses pengecekan dilakukan secara mandiri ke lokasi kendaraan secara langsung.

"Misalkan saya di Bandung, dan mobil saya bermasalah di Palembang, saya akan datang ke Palembang karena saya enggak tahu mobil ini digadai atau enggak, karena enggak ada alat khusus. Kita naik pesawat aja 2 x 24 jam, terus kalau ke daerah pinggiran ada biaya lagi, budaya juga kan beda. Potensi kesalahpahaman," ujarnya.

Ia memastikan, penyelesaian mobil yang bermasalah ini pun tanpa pungutan biaya. Anggota tim BRN hanya membayar Rp 1 juta di awal untuk proses registrasi. "Tujuannya militansi, kalau anda masuk anggota BRN, suatu saat anda akan dimintai pertolongan," kata Sulaiman.

Sejak dibentuk pada 2017 lalu, Sulaiman mengatakan pertahunnya BRN mengatasi lebih dari 1.000 kasus pertahunnya. Angka kejahatan penggelapan mobil pun disebutnya semakin naik di masa pandemi COVID-19.

"Banyak yang secara ekonomi enggak tahu ngapain, mereka mengambil kesempatan di situ. Peningkatannya 25 persen, kita satu hari kadang bisa mendapatkan laporan tiga kasus," ujarnya.

"Dari semua kasus yang kita tangani, kita bisa clear-kan 90 persen," ujar Sulaiman.

Rencananya, untuk menambah jaringan BRN akan melakukan tur ke Pulau Sumatera dari mulai tanggal 24 Agustus sampai 3 September. "Kita akan melakukan tur ke Palembang, Jambi, Pekanbaru, Medan, Batang, Bengkulu, Lampung, tujuannya untuk memperkuat hubungan silaturahmi dan memperbanyak relawan," katanya.

(yum/ern)