Mahasiswa Bosan Kuliah Daring, Kemendikbud: Lebih Baik Tak Mengeluh

Siti Fatimah - detikNews
Jumat, 07 Agu 2020 22:57 WIB
Plt Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud Nizam
Plt Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud Nizam (Foto: Siti Fatimah/detikcom)
Bandung -

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar survei soal evaluasi pembelajaran daring atau belajar jarak jauh untuk mahasiswa. Hasilnya, 90 persen mahasiswa menyatakan lebih menyukai kuliah langsung dibandingkan kuliah daring.

"Kita pertama harus memperhatikan kesehatan, kedua kesehatan, ketiga kesehatan karena keselamatan itu tidak bisa dibeli," kata Plt Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud Nizam di Jalan Eyckman, Kota Bandung, Jumat (7/8/2020).

Dia menjelaskan sama halnya dengan mahasiswa yang memilih pembelajaran fisikal, dosen pun stres mengajar secara daring. "Jadi ini kondisi yang harus kita hadapi, saatnya kita beradaptasi istilahnya new normal belajar melalui daring," ujarnya.

Nizam mengakui ketidaknyamanan terjadi pada semua pihak, termasuk mahasiswa yang bosan kuliah secara daring. Kuliah jarak jauh dilakukan agar kampus terhindar dari penyebaran virus Corona atau COVID-19.

"Lebih baik tidak mengeluh, tapi berkarya," katanya.

"Tetap berpikir positif, kan masih bisa belajar. Meskipun dari rumah, kita sedang berusaha maksimal untuk bisa meringankan biaya pulsa, saya sudah berkoordinasi dengan Kominfo dengan jasa layanan internet, harganya sudah mulai bisa kita tekan," tutur Nizam menambahkan.

Dia menjelaskan pada tahun ajaran baru ini beberapa provider akan menyiapkan paket untuk mahasiswa. Hal tersebut dilakukan untuk menyikapi kuliah daring di tahun ajaran baru.

"Mudah-mudahan nanti begitu pas ajaran baru mulai kita mendapatkan biaya seminimal mungkin, nanti istilahnya ada paket untuk mahasiswa. Supaya tidak membebani mahasiswa," ucapnya.

Menurut dia, pemerintah pusat sudah memfokuskan bantuan untuk mahasiswa program bidikmisi dan bantuan bagi orang tua yang kena PHK akibat dampak pandemi Corona.

Setidaknya 380 ribu mahasiswa yang sudah ikut bidikmisi, kemudian 200 ribu bagi mahasiswa yang baru mendaftar, dan beberapa macam bantuan bagi mahasiswa lain. "Kita alokasikan 420 ribu mahasiswa yang sudah semester tiga ke atas tetapi orang tuanya misalnya PHK, tidak mampu bayar kuliah. Itu dialokasikan bantuan uang kuliah untuk bisa meng-cover Rp 520 ribu membantu membiayai SPP-nya. Sehingga tidak sampai harus cuti atau drop out," tutur Nizam.

(bbn/bbn)