Putra Mahkota Sebut Pengukuhan Pjs Sultan Menyalahi Tradisi Keraton Cirebon

Sudirman Wamad - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 16:34 WIB
Keraton Kasepuhan Cirebon
Keraton Kasepuhan Cirebon (Foto: Sudirman Wamad)
Cirebon -

Rahardjo Djali, keturunan Sultan Sepuh XI Radja Jamaludin Aluda Tajul Arifin mengukuhkan dirinya sebagai polmah (orang yang diberi kuasa) atau penjabat sementara (Pjs) Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon. Rahardjo dikukuhkan sebagai polmah di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, Jawa Barat.

Menanggapi hal tersebut, Putra Mahkota Keraton Kasepuhan Cirebon Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin mengatakan pengukuhan Rahardjo sebagai polmah tidak sah. Artinya, menyimpang dari tradisi di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Setelah mangkatnya Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, kewenangan Keraton Kasepuhan Cirebon berada di tangan Luqman. "Keraton masih kondusif. Wewenang dalam kendali putra mahkota. Keraton Kasepuhan Cirebon telah menjalankan adat dan tradisi sejak ratusan tahun lalu. Termasuk soal pergantian atau suksesi kepimpinan," kata Luqman dalam keterangan yang diterima detikcom, Kamis (6/8/2020).

Lebih lanjut, Luqman menerangkan sebelum Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat mangkat, Arief telah menganugerahkan Luqman sebagai putra mahkota pada 30 Desember 2018 lalu. Dalam tradisi keraton, lanjut Luqman, putra mahkota secara otomatis akan menjabat sebagai Sultan, ketika sultan sebelumnya mangkat.

"Dalam tradisi Kesultanan, ketika Sultan mangkat maka secara otomatis putra mahkota yang telah ditetapkan oleh almarhum wajib menggantikan, meneruskan tugas dan tanggung jawab sebagai sultan," kata Luqman.

"Jadi yang dilakukan oleh saudara Rahardjo c.s (cum suis atau kawannya) bertentangan dengan tradisi turun-temurun di Kesultanan Kasepuhan," kata Luqman menambahkan.

Luqman menegaskan Rahardjo tidak berhak atas gelar kerajaan di Keraton Kasepuhan. Sebab, dikatakan Luqman, Rahardjo bukan merupakan putra sultan. "Tradisi di Keraton Kasepuhan Cirebon itu penerus takhta harus putra sultan dari jalur laki-laki," kata Luqman.

Sekadar diketahui, polemik perebutan takhta Sultan Sepuh itu mencuat setelah video penggembokan ruangan Dalem Arum Keraton Kasepuhan Cirebon yang dilakukan Rahardjo Djali ramai di jagat maya pada akhir Juni lalu. Sebelum Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat wafat, saat itu Arief masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Luqman juga menyinggung soal penggembokan yang dilakukan Rahardjo. "Ulah Rahardjo c.s yang membuat video pengambilalihan tahkta kesultanan bulan kemarin sudah kami laporkan, dan dalam proses penanganan kepolisian," kata Luqman.

Sebelumnya, Rahardjo dikukuhkan sebagai polmah oleh salah seorang kiai dan dihadiri sejumlah keluarganya. Sekadar diketahui, Rahardjo Djali merupakan salah seorang yang berani menggembok ruangan Dalem Arum Keraton Kasepuhan pada . Rahardjo merasa dirinya berhak dilibatkan dalam proses peralihan kekuasaan.

Rahardjo menjelaskan pengukuhan dirinya sebagai polmah untuk mengisi kekosongan jabatan Sultan Keraton Kasepuhan, setelah mangkatnya Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat. Digelarnya tradisi pengukuhan polmah itu dilakukan sebagai jawaban atas penolakan penganugerahan jabatan Putra Mahkota Keraton Kasepuhan kepada PRA Luqman Zulkaedin, anak dari almarhum PRA Arief Natadiningrat.

"Sejauh ini (penganugerahan putra mahkota) tidak sah. Karena sudah melenceng jauh dari kebiasaan (tradisi) yang sudah ditempuh para pendahulu di Keraton Kasepuhan," Rahardjo seusai pengukuhan polmah di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, Kota Cirebon, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020).

(mud/mud)