Keraton Diminta Libatkan Pesantren Saat Penobatan Sultan Sepuh Cirebon

Sudirman Wawad - detikNews
Rabu, 29 Jul 2020 13:23 WIB
Kiai Sepuh Benda Kerep Kota Cirebon Muhtadi Mubarok Soleh
Kiai Sepuh Benda Kerep Kota Cirebon Muhtadi Mubarok Soleh (Foto: Sudirman Wawad/detikcom).
Cirebon -

Hari ini, tepat tujuh hari meninggalnya Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat. Putra Mahkota Keraton Kasepuhan Cirebon PRA Luqman Zulkaedin bakal menggantikan Arief.

Jumenengan (penobatan raja atau sultan) akan dilakukan pada hari ke 40 setelah mangkatnya Arief. Keraton diminta untuk melibatkan pesantren dalam tradisi jumenengan nanti. Hal tersebut berdasarkan sejarah awal penobatan sultan atau raja pertama di Cirebon.

Kiai sesepuh Benda Kerep Kota Cirebon Muhtadi Mubarok Soleh mengatakan penganugerahan dan penobatan putra mahkota menjadi sultan sejatinya mengedepankan musyawarah. Hal itu sejalan dengan ajaran Sunan Gunung Jati.

Mubarok menjelaskan Sunan Gunung Jati merupakan ulama besar yang memimpin Cirebon. "Penobatan harusnya melibatkan para ulama dan kiai dari kalangan pesantren. Agar mendapat rahmat Sunan Gunung Jati. Kita ini orang mukmin, mestinya penobatan disesuaikan dengan aturan yang baik, ya melalui musyawarah," kata Mubarok kepada awak media di Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat, Rabu (29/7/2020).

Mubarok mengaku mendapat amanat dari beberapa pesantren, yakni Ponpes Pemijen Sindang Laut, Ponpes Wanantara Sumber, Ponpes Jaha Cirebon Girang, Ponpes Jatisari Plered dan Ponpes Sukun Weru, juga beberapa majelis taklim, untuk mendorong keraton agar melibatkan pesantren. Mubarok menerangkan salah satu tugas keraton pada zaman dulu adalah siar Islam.

"Sudah seharusnya urusan Keraton Kasepuhan pengelolaannya diarahkan untuk siar Islam yang melibatkan pesantren-pesantren. Dulu, pesantren-pesantren ini bagian dari keraton. Ya pusatnya di keraton," kata Mubarok.

Selanjutnya
Halaman
1 2