Pandemi Corona

Kala Siswa SD di Ciamis Belajar di Teras Masjid dan Rindu Sekolah

Dadang Hermansyah - detikNews
Selasa, 21 Jul 2020 12:43 WIB
Sejumlah siswa SD di Ciamis belajar di teras masjid
Sejumlah siswa SD di Ciamis mengikuti KBM di masjid (Foto: Dadang Hermansyah/detikcom).
Ciamis -

Di masa Pandemi COVID-19 ini, siswa SD di Ciamis belum dibolehkan belajar di Sekolah. Dalam kegiatan guru keliling di Ciamis, salah satu tempat yang digunakan belajar berkelompok adalah masjid.

Seperti 8 orang siswa kelas 4 SDN 4 Kertasari yang belajar di teras depan Masjid Al Ikhlas di Kelurahan Kertasari, Kecamatan Ciamis, Selasa (21/7/2020). Mereka belajar bersama guru yang merupakan wali kelasnya dengan materi tematik tentang kesenian.

Dalam proses belajar, mereka tetap menerapkan protokol kesehatan. Para siswa tetap menggunakan meja belajar lipat ukuran kecil dan mengenakan seragam sekolah putih merah.

Saat ditemui detikcom, para siswa SD ini mengaku sudah jenuh belajar di rumah. Mereka juga merasa tidak nyaman belajar selain di sekolah, seperti saat ini dilaksanakan di masjid.

"Gak enak belajar di masjid, pengennya di sekolah. Gak enaknya karena gak banyak temen. Pokoknya pengen di sekolah. Kalau belajar langsung lebih mengerti, banyak temen jadi ramai," kata salah satu siswa kelas 4 Askana Sakhi Syakira (9) saat ditemui sedang belajar di masjid.

Hal senada juga diungkapkan Regan Widiyanto (9). Meski tak ada kesulitan mengikuti belajar secara daring di rumah tapi dia mengaku lebih senang ketika kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di sekolah.

"Kalau belajar di HP (handphone) ngerti sih, tapi mending belajar langsung. Kalau di sekolah lebih ramai, seru sama teman-teman. Kapan bisa belajar di sekolah lagi?" ucapnya.

Sementara itu, Guru yang juga Wali Kelas 4A SDN 4 Kertasari Yuyu Yuliana menerangkan tahun ajaran baru ini masih belum bisa tatap muka. Untuk memberikan pelajaran kepada siswa ada beberapa sistem yang diterapkan, yakni daring atau online, Luring dan Guru Keliling (Guling).

"Untuk Guru Keliling dilaksanakan seminggu sekali dengan zona kelompok. Satu kelompoknya ada yang 8 orang ada yang 6 orang," katanya.

Yuyu menerangkan untuk penentuan tempat belajar kelompok tidak ditentukan oleh guru. Namun ditentukan sesuai kesepakatan paguyuban orang tua siswa.

"Seperti di masjid ini atas keinginan orang tua, bukan guru. Yang penting sudah izin ke DKM, ada cuci tangan, jaga jarak dan pakai masker. Kalau untuk kelompok lainnya ada yang dilaksanakan di rumah orang tua siswa," ucapnya.

Materi yang disampaikan dalam kegiatan guru keliling sesuai tingkat kesulitan. Bila materi ringan bisa disampaikan melalui daring. Namun bila materi yang memerlukan penjelasan panjang, bisa disampaikan saat belajar berkelompok.

Sementara itu, Ketua DMI Ciamis Wawan S Arifien membolehkan masjid digunakan untuk belajar siswa SD disaat sekolah masih belum dibuka. Tapi ia berpesan tidak hanya sebagai tempat belajar pelajaran umum, namun harus juga diajarkan tentang fungsi masjid dan adab belajar di masjid.

"Nantinya mereka akan selalu merindukan suasana belajar dan beribadah di masjid. Usahakan tidak hanya fokus materi pelajaran yang dibahas, tapi tentang lingkungan dan tempat yang dipakai. Mudah-mudahan dari pelataran masjid akan lahir generasi cerdas. Saat zaman Rasululloh SAW, rumahnya juga dipakai mengajar," ujar Wawan kepada detikcom, Selasa (21/7/2020).

(mso/mso)