12 Perangkat Peringatan Dini Tsunami di Pangandaran Rusak

Faizal Amiruddin - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 17:04 WIB
Hari ini tepat 14 tahun musibah tsunami melanda Pangandaran.
Hari ini tepat 14 tahun musibah tsunami melanda Pangandaran (Foto: Faizal Amiruddin)
Pangandaran -

17 Juli bagi masyarakat Kabupaten Pangandaran merupakan hari bersejarah. Hari ini, tepat 14 tahun lalu bencana alam gelombang tsunami menyapu kawasan pesisir pantai Pangandaran.

Senin, 17 Juli 2006 petang, gelombang besar memporak-porandakan Pangandaran setelah beberapa waktu sebelumnya terjadi gempa 7,7 skala ricther

Berdasarkan catatan WHO, akibat musibah itu ada 668 korban jiwa dan 65 orang dinyatakan hilang. Sementara kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan menyebabkan kerugian hingga miliaran rupiah.

Banyak masyarakat Pangandaran yang masih mengingat musibah memilukan itu. Ada banyak cerita ketika musibah itu terjadi. Masing-masing masyarakat Pangandaran punya ceritanya sendiri.

"Kalau cerita kejadian tsunami itu suka sedih. Seperti mengorek luka lama," kata Kusnadi warga Bojongjati Pangandaran. Dia mengaku lebih memilih menyimpan kenangan pahit itu dalam ingatannya, tanpa harus dibagikan.

Lain lagi cerita Deni Hamdani, warga Ciamis yang selamat dari musibah itu. "Saya selamat karena menggulung diri dengan kasur. Saya waktu itu sedang istirahat di sebuah penginapan. Saya merasa menemukan Tuhan ketika melihat korban dan reruntuhan akibat tsunami. Betapa dahsyat kekuasaan Tuhan, termasuk kekuasaannya menyelamatkan saya," kata Deni.

Namun demikian terlepas dari segala kenangan pahit tsunami Pangandaran 17 Juli 2006, ada catatan penting jika melihat kondisi kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, khususnya tsunami.

Dari 14 menara sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) tsunami yang sempat dibangun di Pangandaran, yang masih berfungsi saat ini tinggal 2 unit. Dua unit itu adalah menara EWS di dekat Telkom Pangandaran dan satu di sekitar pelabuhan Bojongsalawe Parigi.

"Saat ini EWS yang masih berfungsi memang tinggal dua, yang di Pangandaran dan di Bojongsalawe. Sementara sisanya rusak," kata Sekretaris BPBD Pangandaran Gunarto didampingi Kepala Seksi Pencegahan Ranta, Jumat (17/7/2020).

Kerusakan 12 EWS di sepanjang pantai Pangandaran itu sudah dilaporkan kepada pemerintah pusat dan lembaga terkait, namun sejauh ini belum ada tindak lanjut. Menurut Ranta kerusakan EWS mayoritas disebabkan oleh proses korosi logam. "Namanya logam di sekitar pantai pasti cepat berkarat. Makanya rusak. Alat itu pun perbaikannya cukup sulit, perlu teknisi khusus dan suku cadang yang langka," kata Ranta.

Ranta mengatakan 2 EWS tersebut memang masih jauh dari kata ideal. "Setidaknya kita harus punya empat. Satu di Pangandaran, Parigi, Cimerak dan Batukaras. Paling tidak ada empat yang berfungsi. Kalau hanya dua memang tak memadai," kata Ranta.

Dia mengatakan jangkauan EWS itu radius 2 kilometer. Jika panjang pantai Kabupaten Pangandaran 92 kilometer, idealnya masih butuh puluhan EWS, terutama pesisir yang terdapat pemukiman penduduk.

Dua menara EWS yang masih berfungsi saat ini terus dirawat oleh BPBD Pangandaran. "Setiap tanggal 26 setiap bulannya, kami lakukan pengecekan fungsi sistem peringatan dini tersebut," kata Ranta.

(mud/mud)