Duda-Janda Baru Muncul Saat Pandemi, Ridwan Kamil Kenalkan '21-25'

Yudha Maulana - detikNews
Sabtu, 04 Jul 2020 14:37 WIB
Parents are quarreling daughters feel stressed. She cried, hugging a teddy bear
Ilustrasi perceraian (Foto: Istock)
Bandung -

Pandemi COVID-19 membuat angka kasus perceraian meningkat di sejumlah daerah di Jawa Barat. Banyak faktor yang menyebabkan perceraian di antaranya yang paling dominan adalah faktor ekonomi dan perselisihan.

Seperti di Kota Bandung sejak empat bulan terakhir atau pada masa wabah virus Corona merebak tercatat terjadi 1.355 pasangan yang bercerai. Panitera Pengganti PA Bandung Saepuloh mengatakan pasangan yang mengajukan gugatan perceraian itu rata-rata berusia di bawah 30 tahun.

"Di bawah 30 tahun," kata Saepuloh saat ditanya terkait usia pasangan yang mengajukan gugatan.

Sementara itu Wakil Ketua Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Garut Asep Alinurdin mengatakan, sejak awal tahun 2020 hingga bulan Juni, angka perceraian pasutri yang ditangani PA Garut sudah hampir mencapai 3 ribu kasus.

"Untuk tahun ini sudah ingin mencapai tiga ribu," kata Asep kepada wartawan di kantornya, Jalan Suherman, Tarogong Kaler, Kamis (2/7).

Asep mengatakan, istri yang cerai dengan suaminya rata-rata berumur 25-40 tahun. Perceraian dominan disebabkan faktor ekonomi. Alasan ekonomi kerap membuat pasutri di Garut bertengkar hingga akhirnya cerai.

Begitu pun angka perceraian berpotensi meningkat di Kabupaten Cianjur di tengah pandemi COVID-19, apalagi faktor ekonomi menjadi penyebab utama tingginya perceraian di Tatar Santri.

Selanjutnya
Halaman
1 2