2 Kubu Warga Bandung Sempat Berselisih Gegara Jalan Dipasang Pagar

Siti Fatimah - detikNews
Kamis, 02 Jul 2020 13:07 WIB
Perselisihan antar warga terjadi akibat pemasangan pagar
Perselisihan antar warga terjadi di Bandung akibat pemasangan pagar (Foto: Siti Fatimah)
Bandung -

Pemasangan pagar di Jalan Cisokan Baru Nomor 8 Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung memicu ketegangan antar warga kompleks dan permukiman. Pasalnya, menurut sebagian warga permukiman, pemasangan pagar tersebut dibuat dalam akses jalan umum.

Dari video yang diperoleh detikcom, perseteruan terjadi ketika pagar yang sudah dibuat 10 hari sebelumnya tidak dapat memberikan akses jalan yang maksimal. Kemudian, saat akan direnovasi gerbang tersebut beberapa warga beradu argumen.

Salah satu tokoh masyarakat, Ghufron Fauzi (67) membenarkan sekaligus menyayangkan atas kejadian tersebut. Dia menyebut, pembatasan akses jalan umum itu berpengaruh pada kegiatan usaha warga permukiman yang baru saja terdampak COVID-19.

"Kalau saya pribadi ya tidak apa-apa ada pagar. Hanya saja, di sini kan banyak masyarakat prasejahtera yang juga menggunakan akses jalan tersebut untuk usaha dan bekerja, karena jalan itu masuk ke jalan pintas," kata Ghufron saat ditemui detikcom, Kamis (2/7/2020).

Di sisi lain, Neneng (59) selaku warga yang tinggal di wilayah kompleks menuturkan alasan memasang pagar di dekat permukiman warga karena dipicu keresahan warga kompleks atas seringnya terjadi kehilangan (kemalingan).

Dia menyebut dari 20 rumah, delapan di antaranya pernah kecurian barang berharga seperti motor bahkan mobil. "Berarti lingkungan yang tidak aman. Kemudian yang tinggal di sini rata-rata sudah pensiun, ketika dilihat dari CCTV motor pelaku pencurian itu datangnya dari jalan permukiman. Jalannya kecil jadi yang paling memungkinkan ya jalan sana," katanya saat ditemui di lokasi.

Meskipun begitu, Neneng bersama warga yang lain tidak bermaksud menuduh warga permukiman yang melakukan pencurian. "Memang sempat ada dari warga sana (permukiman) yang menyangka kita menuduh mereka. Tapi kita sama sekali tidak ada maksud menuduh," tegasnya.

Adapun alasan adu argumen yang terjadi, menurutnya karena kesalahpahaman dalam penentuan jarak yang dibuka."Kita inginnya 80 cm, lalu ingin diperbesar jadi 140 cm. Karena kita merasa kalau itu terlalu besar dicarilah titik temunya jadi 110 cm. Tapi tidak ada penutupan pagar secara total sebenarnya," ujarnya.

Ditemui secara terpisah, ibu rukun tetangga 7 menyatakan dari kejadian yang sempat bersitegang ini pihaknya bersama dengan tingkat rukun warga telah menemui titik tengah.

"Iya kemarin kita langsung buat surat perjanjian. Jarak pagar yang dibuka diperlebar dan berlaku buka tutup jalan," jelasnya.

(mud/mud)