Kisruh Pengambilan Kekuasaan, Sultan Cirebon Bakal Lapor Polisi

Sudirman Wamad - detikNews
Senin, 29 Jun 2020 12:19 WIB
Keraton Kasepuhan Cirebon
Foto: Sudirman Wamad
Cirebon -

Kisruh perebutan kekuasaan Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, menggemparkan masyarakat. Raden Rahardjo Djali, cucu dari Sultan Sepuh XI Jamaludin Aluda Tajul Arifin tiba-tiba menyegel salah satu ruangan keraton dan menyatakan mengambil alih kekuasaan.

Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat pun meradang. Tindakan Rahardjo dianggap mencoreng nama baik Keraton Kasepuhan dan Kota Cirebon pada umumnya. Arief mengaku telah menyiapkan langkah hukum terkait tindakan Rahardjo.

"Oleh karena itu kejadian ini layak dilaporkan secara hukum ke Kepolisian atas tindakan oknum dan kawan-kawannya. Demi tegaknya hukum dan menjaga marwah Keraton Kasepuhan Cirebon," kata Arief dalam keterangan yang diterima detikcom, Senin (29/6/2020).


Arief menilai tindakan Rahardjo telah melanggar hukum. Sebab, dikatakan Arief, Rahardjo dinilai telah menyebarkan berita bohong dan melanggar Undang-undang (UU) ITE.

Sebelumnya, Rahardjo tak sendiri. Ia mendapatkan dukungan dari keluarga besarnya. Ia mendapat dukungan Elang Mas Upi Supriyadi, cucu dari istri pertama Sultan Sepuh XI Jamaludin Aluda Tajul Arifin, Raden Ayu Raja Pamerat. Upi merupakan anak dari Raja Ratu Wulung Ayuningrat.

Rahardjo menilai Arief tak bisa merawat keraton. Ia menilai keraton kotor dan tak terawat. Hingga puncaknya, Raharjdo berani menyegel ruangan Dalem Arum Keraton Kasepuhan.

Namun sebelum menyegel ruangan tersebut, Rahardjo mengaku telah melayangkan permintaan untuk berdialog tentang masa depan keraton dengan sultan yang saat ini menjabat. Namun tak kunjung digubris Arief.

"Saya sudah beberapakali mengajak berunding. Ingin berembuk untuk mengembangkan keraton ke depan. Yang bersangkutan menolak, tidak merespons telpon ataupun WA saya. Ini sudah lama sekali. Sudah lebih dari lima tahun," kata Rahardjo kepada detikcom, Minggu (28/6/2020).

Tonton Video Pria Ini Segel Keraton Kasepuhan, Ngaku Keturunan Sultan:

(ern/ern)