Hingga Mei, Kasus DBD di Bandung Mencapai 1.748 Orang

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Kamis, 25 Jun 2020 15:42 WIB
Mosquito sucking blood on a human hand
Ilustrasi DBD (Foto: thinkstock)
Bandung -

Di tengah pandemi COVID-19, angka kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bandung pun masih tinggi. Sejak awal tahun hingga bulan Mei, jumlah kasus DBD di Kota Bandung mencapai 1.748 orang.

"Kalau kita lihat dengan tahun sebelumnya, memang mencapai 1.700-an. Tapi ini lebih sedikit dibandingkan tahun lalu. Karena kita tahu, pada tahun lalu itu terjadi peningkatan seluruh di Indonesia secara signifikan," ucap Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung Rosye Arosdiani saat dihubungi, Kamis (25/6/2020).

Rodye merinci jumlah kasus DBD pada tahun ini. Bulan Januari, kasus DBD mencapai 248 orang, Februari 330 orang, Maret 479 orang, April 385 orang dan Mei 306 orang.

"Meninggal sembilan orang," katanya.

Sementara tahun lalu pada periode sama Januari-Mei, jumlah kasus DBD lebih tinggi. Dinkes mencatat jumlah kasus DBD tahun lalu mencapai 3.201 orang dengan rincian Januari 834 orang, Februari 616 orang, Maret 664 orang, April 548 orang dan Mei 539 orang.

Meski berdasarkan data yang ada terjadi penurunan, Rosye mengatakan pihaknya belum tenang. Dinkes akan terus melakukan pemantauan.

"Tapi bukan berarti kita juga tenang, kalau dibandingkan tahun lalu untuk melihat apakah ini terjadi lonjakan sehingga bisa disebut sebagai kejadian luar biasa atau tidak. Jadi kami pun memantau sepanjang lima tahun terakhir setiap bulannya," tuturnya.

Terkait upaya fogging untuk membasmi nyamuk penyebab DBD, Rosye mengatakan hal itu tak bisa dilakukan secara langsung. Fogging, kata dia, harus dilakukan sesuai regulasi.

"Fogging itu akan dilaksanakan saat ada kasus kemudian hasil penyelidikan epidemiologis memang memenuhi syarat untuk melaksanakan fogging. Kita tahu fogging itu membunuh nyamuk yang dewasa. Nah itu kan harus tepat waktunya, harus tepat sasaran nya. Jangan tidak ada kasus tapi dilakukan fogging, yang terjadi itu zat kimia sebetulnya. Itu bahayanya melakukan fogging jika tidak tepat sasaran," katanya.

Sementara itu beredar informasi adanya seorang anak yang terkena DBD dan juga terpapar COVID-19 di Bandung. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bandung membenarkan terkait hal tersebut.

"Iya (komplikasi DBD dan COVID-19). Tapi sudah pulang. Sudah dinyatakan sembuh," ucap Humas RSUD Bandung Chareudin Latupono saat dikonfirmasi.

Chareudin belum menjelaskan sejak kapan dan sampai kapan anak tersebut mendapatkan perawatan di RSUD Bandung. Namun dia memastikan proses perawatan sesuai protokol perawatan COVID-19.

"Betul (diisolasi). Kita ada ruang khusus pasien COVID-19 khusus anak, kita sudah siapkan ruang isolasi lah. Terpisah dengan perawatan anak lainnya," kata dia.

Tonton video 'Punya Gejala Demam Tinggi, Ini Beda DBD dan COVID-19':

(dir/mud)