Disdik Jabar Buka Suara soal PPDB SMAN 10 Bandung

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 24 Jun 2020 14:50 WIB
Ilustrasi PPDB (Andhika Akbarayansyah)
Foto: Ilustrasi PPDB (Andhika Akbarayansyah)
Bandung -

Disdik Jawa Barat buka suara soal Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMAN 10 Kota Bandung. Sekretaris I PPDB Jabar Dian Penisiani mengatakan, alur penerimaan calon peserta didik di sekolah yang beralamat di Jalan Cikutra, Kota Bandung itu masih sesuai koridor.

"Tahap satu sekolah dapat menentukan sendiri kriteria, baik jalur perpindahan tugas orang tua, anak guru dan jalur prestasi nilai rapor dan prestasi perlombaan," kata Dian singkat saat dikonfirmasi, Rabu (24/6/2020).

Sebelumnya, puluhan orang tua siswa menyambangi SMAN 10 Kota Bandung pada Selasa (23/6) siang. Mereka memprotes hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang dinilainya tidak tepat.

Pasalnya, anak-anak mereka tak lolos seleksi, namun ada siswa lain yang nilainya lebih kecil bisa diterima pada tahap pertama ini. Setelah dikonfirmasi, Kepala Sekolah SMAN 10 Ade Suryawan mengatakan sekolah diberi kewenangan untuk menentukan kriteria calon siswa pada tahap pertama ini.

Menurutnya, kuota untuk jalur prestasi rapor di SMA 10 hanya untuk 30 siswa, kemudian karena ada jalur prestasi non-akademik yang tidak sesuai maka kuotanya dialihkan ke akademik mencapai 15 kursi.

Enam kursi diperebutkan untuk siswa dengan nilai tinggi, sedangkan sembilan kursi lainnya diberikan sesuai kriteria kebutuhan sekolah. "Kita ada kriteria tertentu di mana dari sekolah dengan rata-rata UN terkecil dan memasukkan data ke SMA 10 bisa masuk, sekolah diberi kewenangan untuk menentukan kriteria sesuai kebutuhan sekolah," ujar Ade.

Kenapa kriteria ini dipilih, lanjut Ade, ini berdasarkan musyawarah mufakat dewan sekolah. Harapannya siswa dari SMP yang terdekat dan memiliki nilai skor kecil saat memasukkan data ke SMA 10, tapi memiliki nilai paling besar di antara teman-temannya dari SMP yang sama, bisa masuk ke SMAN 10.

Cara ini diyakini bisa membuat pemerataan peluang bagi siswa, sehingga tidak semua yang masuk ke SMA 10 harus memiliki nilai paling besar dengan menilik rata-rata nilai UN di Kota Bandung.

"Intinya ini untuk pemerataan. Kursi ini pun sebenarnya peralihan karena untuk jalur prestasi akademik sebenarnya tidak diubah hanya 30. Sisanya yang peralihan non-akademik baru sesuai kriteria sekolah," katanya.

"Kalau misal hanya dari nilai mungkin saya pukul rata semuanya, tapi kan sekolah juga diberi kewenangan untuk mencari siswa sesuai kebutuhan sekolah," tutur Ade menambahkan.

(yum/bbn)