10 Ribu Kit Alat Deteksi COVID-19 ITB-Unpad Diproduksi Juli 2020

Siti Fatimah - detikNews
Jumat, 19 Jun 2020 12:46 WIB
Alat deteksi COVID-19 buatan Unpad dan ITB segera diproduksi massal
Alat deteksi COVID-19 buatan Unpad dan ITB segera diproduksi massal (Foto: Istimewa)
Bandung -

Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) membuat dua alat deteksi SARS-Cov-2, penyebab virus COVID-19. Kedua alat tersebut, saat ini sedang memasuki tahap validasi ke sampel virus sebenarnya. Ditargetkan pada bulan Juli 2020 mendatang akan diproduksi 10.000 kit setelah keduanya tervalidasi.

Koordinator Peneliti Rapid Test COVID-19 Fakultas MIPA Unpad Muhammad Yusuf mengatakan, kedua alat tersebut bernama Deteksi CePAD atau Rapid Test 2.0 dan Surface Plasmon Resonance (SPR). Kemudian, rencananya validasi ke sampel virus akan dilakukan setelah kedua alat tersebut tervalidasi di laboratorium.

"Iya benar, karena itu harus dilalui sebelum rilis (produksi massal). Bulan ini sudah mulai prosesnya, dari mulai administrasi sampai ujinya, jadi mudah-mudahan dalam waktu sebulan (kemudian diproduksi massal)," kata Yusuf saat dihubungi detikcom, Jumat (19/6/2020).

Yusuf mengatakan, setelah validasi menunjukkan hasil yang baik, pada Juli 2020 pihaknya akan produksi 10.000 kit, kemudian dilanjutkan 50.000 kit per bulan sesuai dengan kapasitas produksi mitra saat ini. Jika diperlukan lebih banyak, kata Yusuf, pihaknya mengajak partisipasi berbagai pihak untuk meningkatkan kapasitas produksi tersebut.

Dia menjelaskan, rapid test 2.0 memiliki perbedaan dengan rapid test yang umum digunakan saat ini yaitu terletak pada molekul yang dideteksi.

"Rapid test COVID-19 yang umum mendeteksi antibodi, dan rapid test 2.0 ini mendeteksi antigen. Sehingga, rapid test 2.0 dapat mendeteksi virus lebih cepat, karena tidak perlu menunggu pembentukan antibodi saat tubuh terinfeksi virus," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, konsep deteksi antibodi maupun antigen keduanya sudah mendasar pada teknologi yang benar. Deteksi antibodi saat ini, kata dia, keunggulannya pada samplingnya yang lebih mudah yaitu dari darah. Namun, deteksi antibodi pada COVID-19 lebih tepat untuk mengetahui persebaran virus (tracing).

Yusuf mengatakan, saat ini pihaknya sedang melengkapi fasilitas assembly rapid test dan produksi 5.000 kit pada Mei-Juni untuk keperluan validasi.

Sementara itu untuk alat kedua, SPR (Surface Plasmon Resonance) yang dikembangkan ITB dan Unpad, tergabung dalam Task Force Riset dan Inovasi Penanganan COVID-19 (TFRIC-19). Dalam hal ini diinisiasi dan dikoordinasi oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Kemenristek/BRIN.

Yusuf mengatakan, SPR yang dikembangkan memiliki fungsi sebagai alat detektor COVID-19. Dengan berukuran layaknya aki mobil, alat ini dapat mendeteksi interaksi antara biosensor dan virus SARS-CoV-2.

"Cara kerjanya, sampel biologis yang diambil dari pasien atau dalam VTM (viral transport medium) akan dicampur dengan pelarut kemudian dialirkan pada alat SPR. Jika ada virus dalam sampel, maka nanti akan ada perubahan sinyal yang dapat dibaca pada alatnya," ucapnya.

Dia juga menjelaskan, jika dalam tahap validasi kali ini belum memuaskan, maka pihaknya akan melakukan evaluasi dan pengembangan. Lalu mengajukan validasi kembali hingga berhasil.

"Lakukan evaluasi, reformulasi. Validasi ini bagian dari pengembangan produk, terus sampai produknya berhasil. Saat ini produknya sudah teruji mendeteksi protein virus di laboratorium, tinggal ke sampel yang sebenarnya," katanya.

(mud/mud)