Nelayan Tak Sabar Menangkap Benih Lobster, Bupati Pangandaran Menolak

Faizal Amiruddin - detikNews
Kamis, 18 Jun 2020 16:52 WIB
Penyelundupan benih lobster digagalkan (Raja Adil/detikcom)
Ilustrasi benih lobster (Foto: Penyelundupan benih lobster digagalkan (Raja Adil/detikcom)
Pangandaran -

Asep Surdin, nelayan warga Bulak Laut Pangandaran yang sempat diamankan petugas gabungan karena menangkap benih lobster mengaku tak tahu harus mengantongi izin.

"Ya saya tahunya sudah diperbolehkan lagi kata Menteri Kelautan, ada peraturannya. Ya sudah saya menangkap lagi," kata Surdin saat ditemui di markas Satuan Polisi Perairan Pangandaran, Kamis (18/6/2020).

Saat itu dia baru saja diberi pembinaan oleh petugas agar tidak lagi menangkap benih lobster di perairan Pangandaran.

"Beruntung perahu sama mesin dan peralatan lainnya tidak ditahan. Jadi saya masih bisa melaut. Hanya jaring benih lobster saja yang ditahan polisi," kata Surdin.

Dia mengaku sempat kaget ketika sedang asyik menangkap anak lobster di pantai barat Pangandaran, perahunya dikepung petugas. "Kaget juga, tiba-tiba dikepung. Saya hanya bisa pasrah," katanya.

Dia beranggapan tidak sedang melawan hukum. "Saya hanya sedang berusaha menafkahi keluarga. Saat ditangkap saya baru dapat 15 ekor," kata Surdin.

Dia mengatakan saat ini harga jual benih lobster Rp 10 ribu/ekor untuk lobster pasir. Sementara jenis lobster mutiara bisa terjual seharga Rp 25 ribu/ekor. "Saya tidak tahu siapa pengepulnya. Saya biasa nitip jual ke teman," kata Surdin.

Disamping itu Surdin juga mengaku siap menempuh peraturan yang diharuskan asalkan dirinya diizinkan menangkap benih lobster. "Saya siap ikuti aturan, kan katanya sudah diizinkan oleh menteri," kata Surdin.

Sementara itu Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata yang juga Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran, menegaskan dirinya secara pribadi masih menolak penangkapan bayi lobster di wilayah perairan Pangandaran.

Jeje mengakui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 tahun 2020 tentang pengelolaan lobster, kepiting dan rajungan sudah terbit dan menjadi dasar penangkapan baby lobster di beberapa daerah.

Namun alih-alih bersiap melaksanakan aturan itu, Jeje justru mengaku tengah mencari celah untuk menolak aturan tersebut. "Sedang kita kaji dari berbagai aspek. Nanti dirapatkan. Kalau saya inginnya aturan itu ditolak atau Pangandaran dikecualikan," kata Jeje.

Dia menginginkan habitat lobster di Pangandaran tidak terganggu atau terlindungi. Karena seketat apapun aturan, pengendalian dan pengawasan penangkapan benih lobster sulit dilakukan. Penangkapan benih yang jor-joran dikhawatirkan tetap terjadi kendati dikawal aturan yang ketat.

"Menangkap benih lobster itu mudah. Bahkan tak perlu perahu, cukup menggunakan ban bekas sebagai pelampung. Makanya saya takut lingkungan kita rusak," kata Jeje.

Mengenai desakan nelayan Pangandaran agar mereka diperbolehkan menangkap dengan alasan ekonomi, Jeje mengatakan hal itu tak akan mengubah kebijakannya. "Nelayan mau protes atau marah ke saya tak masalah, karena kepentingan menjaga laut khususnya baby lobster bagi saya merupakan hal yang prinsip," tegas Jeje.

(mud/mud)