Dishub Jabar Izinkan Ojol Kembali Tarik Penumpang, Asal...

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 17 Jun 2020 19:08 WIB
Poster
Ilustrasi Corona (Foto: Edi Wahyono/detikcom).
Bandung -

Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperbolehkan pengemudi ojek online untuk kembali mengangkut penumpang. Namun harus mengikuti protokol kesehatan dan di daerah yang masuk zona hijau dan kuning.

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat (Dishub Jabar) Hery Antasari menyatakan pengemudi ojol bisa mengangkut penumpang di wilayah kuning dan hijau. Selain itu para pengemudi juga harus mengikuti mengikuti persyaratan ketat yang diterapkan.

Ketentuan itu mengacu kepada kepada Surat Edaran Menteri Perhubungan No 11 Tahun 2020 tentang Pedoman dan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Transportasi Darat pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru untuk Mencegah Penyebaran Corona Virus Disease 2019.

"Untuk hijau dan kuning diperkenankan mengangkut penumpang dengan persyaratan ketat," kata Hery di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (17/6/2020).

Dalam surat edaran itu tersirat, bahwa ojol dapat mengangkut orang dan barang dengan syarat menggunakan disinfektan secara reguler saat penumpang naik dan turun, pengemudi secara reguler melaksanakan rapid test, dilengkapi masker, sarung tangan, hand sanitizer, jaket lengan panjang dan pembayaran non-tunai di wilayah hijau.

Sementara untuk daerah kuning, ada tambahan persyaratan yakni penumpang diharuskan memakai helm sendiri. Sebelum surat edaran keluar, ujar Hery, kebijakan masih memegang peraturan gubernur terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang memberikan diskresi kebijakan ojol kepada masing-masing kepala daerah.

Hery mengatakan, pada fase pelonggaran pembatasan di bidang transportasi darat ini pemerintah pusat membagi empat zona level kewaspadaan, yakni merah, oranye, kuning dan hijau. Hal itu sedikit berbeda dengan Pemprov Jabar yang menerapkan lima level kewaspadaan yakni hitam, merah, kuning, hijau dan biru.

"Sedikit berbeda dengan Pemprov Jabar, tapi prinsipnya sama mungkin ada beberapa penekanan yang beririsan tapi hanya masalah pembagian optimalisasi di daerahnya saja, sehingga ada perbedaan," katanya.

Khusus untuk wilayah Bodebek yang menjadi penyangga DKI Jakarta, kata dia, ojol masih belum bisa menarik penumpang. Hal itu berdasarkan aspirasi dari lima kepala daerah di Bodebek, karena pertimbangan teknis.

"Pihak aplikator sudah mampu melakukan segregasi geofencing pada kartografinya dengan membatasi (angkut penumpang) sampai ke tingkat kelurahan bahkan RW, jadi aplikasi secara otomatis tidak akan melayani atau menurunkan penumpang di wilayah tertentu yang dianggap beresiko tinggi seperti merah atau hitam, itu sudah dikoordinasikan dengan DKI Jakarta, tapi Bodebek dan Jabar belum," kata Hery.

"Fitur angkut penumpang kami minta aplikator untuk mematikannya di wilayah Bodebek sampai ada kesepakatan dan kondisi yang sama dengan DKI Jakarta, untuk wilayah Jabar yang lain mengikuti ketentuan sesuai surat edaran no 11 ini, di wilayah kuning dan hijau," ujar Hery menambahkan.

(yum/mso)