Wisata Puncak Padat, GTPP Jabar: Potensi Gelombang Kedua COVID-19 Besar

Yudha Maulana - detikNews
Senin, 15 Jun 2020 20:30 WIB
Video: Jalur Puncak Bogor Macet Parah!
Potret puncak Bogor macet parah (Foto: 20detik)
Bandung -

Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 (GTPP Jabar) menyayangkan euforia masyarakat yang membanjiri tempat wisata seperti wilayah Puncak, Kabupaten Bogor dan sekitarnya pada akhir pekan kemarin. Kerumunan massa tersebut dinilai memperbesar peluang terjadinya gelombang kedua COVID-19 di Jabar.

Juru Bicara GTPP Jabar Berli Hamdani Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) proporsional tingkat provinsi diperpanjang dan masih berlaku hingga 26 Juni 2020.

Berli yang juga Kepala Dinas Kesehatan Jabar mengingatkan kembali mengenai risiko penularan COVID-19 di tengah kerumunan, apalagi wilayah Bogor masuk ke dalam zona rawan yang bersinggungan dengan DKI Jakarta yang jadi episentrum COVID-19.

"Kejadian seperti ini, terjadi kerumunan massa yang luar biasa. Sebagian besar tidak menggunakan masker, tentunya meningkatkan resiko penularan. Juga memperbesar peluang terjadinya gelombang kedua pandemi COVID-19 di Jabar, tentu itu tidak kita inginkan," kata Berli saat dihubungi detikcom, Senin (15/6/2020).

Pengawasan pergerakan lalu lintas masyarakat pun telah dilakukan oleh tim GTPP dengan melibatkan TNI-Polri, relawan, ASN, Non-ASN. Namun diakuinya masih ada keterbatasan sumber daya manusia.

"Pastinya tidak akan berdampak tanpa partisipasi aktif dan disiplin masyarakat," katanya.

Informasi mengenai kemacetan di kawasan Puncak ini tersebar di media sosial. Beberapa akun media sosial juga mengunggah foto ramainya lalu lintas di Puncak.

Camat Cisarua, Deni Humaedi menyebut kawasan Puncak sempat dipadati warga pada pagi hari. Kendati demikian, ia mengatakan kondisi saat itu sudah melandai usai pemberlakuan sistem satu arah.

Deni menyebut rest area menjadi titik kumpul warga. Hal ini terjadi karena kawasan wisata Puncak masih ditutup pasca penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Karena kan tempat resmi belum buka, Gunung Mas belum buka, itu di pinggir jalan yang pertama kumpul mereka itu di rest area, mereka di pinggir parkir di situ," kata Deni.

Deni berharap pengendalian kendaraan juga dilakukan di Jakarta. Pasalnya, kata Deni, mobilitas masyarakat menuju arah Puncak tidak bisa hanya diserahkan ke pemerintah daerah.

"Mohon artinya kita juga diimbau di media itu agar dari Jakarta sendiri melakukan pengendalian mobilitas penduduknya juga, jangan dilepas ke kita," ujarnya.

(yum/mud)