PDP Sukabumi Sempat Dimakamkan Protokol Corona, Keluarga: Biaya Pribadi

Syahdan Alamsyah - detikNews
Kamis, 11 Jun 2020 20:36 WIB
Poster
Ilustrasi pemakaman protokol COVID-19 (Foto: Edi Wahyono)
Sukabumi -

Jasad almarhumah Eha Julaeha (56) akan dibongkar keluarganya sendiri. Pasalnya, perempuan asal Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi itu terbukti negatif COVID-19.

Marwan Hamdani, adik kandung Eha mengungkap, meskipun dimakamkan dengan protokol COVID oleh petugas RSUD Sekarwangi, biaya pengantaran jenazah menggunakan ambulans hingga biaya penggalian dan pemakaman ditanggung oleh pihak keluarga.

"Memang mereka tidak minta, karena setahu saya kalau standar pemakaman COVID harusnya gratis, ini pihak RS tidak ada konfirmasi ke kita sehingga kita yang bayar semuanya. Mulai penggalian dan biaya pengantaran pakai ambulans, memang sekali lagi tidak meminta tapi kalau memang profesional harusnya ditolak," ungkap Marwan, Kamis (11/6/2020).

Marwan menceritakan kakakmya meninggal dunia berstatus PDP COVID-19 saat meninggal karena saat itu diketahui hasil rapid testnya reaktif. Begitu meninggal dunia pada Selasa 19 Mei, petugas memakamkan kakaknya dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

Jasad Eha rencananya akan digali besok, plastik pembungkus jasad akan dibuka dan jasad akan dikeluarkan dari peti. Selain itu, pakaian almarhumah juga akan dikeluarkan dari dalam lubang makam karena sebelumnya pakaian itu sengaja dimasukkan ke dalam oleh petugas yang memakamkan almarhumah.

"Saya memahami saat pemakaman saya tidak ngomong apa-apa ke pihak RS, mereka punya standar COVID saya juga bisa kena aturan hukum. Ketika sekarang hasil swab negatif dia harus memahami dong posisi keluarga karena dikucilkan oleh warga," ungkap Marwan.

Almarhumah Eha diketahui meninggal dunia saat menjalani isolasi di RSUD Sekarwangi karena hasil rapid test reaktif. Saat itu sepengetahuan keluarga Eha dirawat bersama 5 pasien lainnya. Tidak lama setelah dirawat, Eha meninggal dunia.

"Kakak saya masuk ruang isolasi berisi lima orang. Saat itu suhu tubuhnya tidak demam, tidak ada gejala yang menunjukkan COVID seperti batuk sesak nafas panas enggak ada. Itu kata saudara saya yang saat itu di RS. Kakak saya ini rencana awalnya mengeluh sakit di perut karena ada kista, mau operasi juga tidak bisa karena kondisinya katanya lumpuh," pungkas Marwan.

Ditulis sebelumnya, keluarga bersikukuh untuk memakamkan jasad Eha dengan prosesi sesuai syariat islam. Selain itu keluarga juga ingin memulihkan nama baik almarhumah karena selama ini ada stigma dari lingkungan sekitar yang dirasakan keluarga selepas meninggalnya Eha dengan status PDP.

(sya/mud)