Mimin (42), seorang pedagang cincau mengungkapkan pembeli mulai sepi sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jawa Barat.
"Kita kan dagang letaknya berada di perbatasan antara Bandung dan Cianjur, sedangkan penyekatan itu dilakukan di perbatasan, jadi para pembeli maupun yang lewat pada takut untuk datang ke sini, mereka takut diperiksa dan ditest", ujarnya pada detikcom, Kamis (11/6/2020).
Dalam sehari ia mengaku hanya terjual dua gelas cincau, padahal biasanya bisa seratusan gelas cincau yang terjual.
"Satu wadah penuh itu biasanya habis, sisanya hanya sedikit. Sekarang mah dari pagi sampai siang masih penuh, dapat membeli itu baru menjelang sore. Kalau ada sisa ya dibuang, karena cincau tidak bisa disimpan untuk dijual lagi besok. Kan pedang di sini tidak pernah pakai pengawet apapun," ucapnya.
Dalam sehari dia pun hanya dapat uang sekitar Rp 10 ribu - Rp 20 ribu. Uang itu kemudian ia jadikan modal untuk berjualan cincau esok harinya.
"Modal itu sekitar Rp 15 ribu untuk 50 gelas cincau. Jadi kalau dapatnya hanya Rp 10 ribu ya jadinya nombok. Belum lagi buat kebutuhan sehari-hari tidak dapat," ungkapnya.
Dia pun terpaksa meminjam ke bank keliling untuk makan dan kebutuhan sehari-hari keluarganya. "Mau gimana lagi, meskipun bunganya besar dan dibayar tiap hari yang penting di rumah bisa tetap makan," tuturnya.
Keluhan senada juga terucap dari Muhammad Pandi pedangang cincau lainnya di lokasi tersebut. Meskipun dia cukup banyak mendapatkan pelanggan, tetapi cicilan pada bank keliling membuat pendapatan bersihnya nihil.
"Di rumah ada 7 orang anak yang harus saya tanggung kebutuhannya, meskipun sekarang tidak separah kemarin namun tetap saya tidak mempunyai keuntungan karena harus dipotong untuk membayar cicilan ke bank keliling," imbuhnya.
(ern/ern)