New Normal, Ridwan Kamil Simulasi Salat Berjamaah di Masjid Al Irsyad Padalarang

Whisnu Pradana - detikNews
Sabtu, 30 Mei 2020 16:04 WIB
Ridwan Kamil simulasi salat jumat di masjid al irsyad
Foto: Whisnu Pradana
Bandung Barat -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melakukan pengecekan kesiapan pembukaan dan penyelenggaraan ibadah secara berjamaah pada saat new normal atau kenormalan baru ditetapkan 1 Juni mendatang.

Berdasarkan hasil evaluasi, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang saat ini ada di zona biru penyebaran COVID-19 termasuk ke dalam 15 kota/kabupaten yang diizinkan melaksanakan new normal. Sementara 12 daerah lainnya masih direkomendasikan melakukan perpanjangan PSBB.

Didampingi Ketua MUI Jawa Barat dan Bupati KBB, Ridwan Kamil menyambangi Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) dan Masjid Al Irsyad, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, KBB.

Dalam tahap pertama, rumah ibadah menjadi yang pertama dibuka. Peribadatan mulai boleh dilakukan secara berjamaah namun tetap dibatasi untuk jamaah dan jemaat yang hadir sambil menerapkan protokol kesehatan.

"Jadi berdasarkan fatwa MUI dan melihat hasil evaluasi, di AKB (adaptasi kebiasan baru, istilah new normal versi Ridwan Kamil-red) tahap satu ini, kita utamakan pembukaan tempat peribadatan, seperti masjid, gereja, kelenteng, pura, vihara. Tapi tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti wajib pakai masker, cek suhu tubuh, dan dilakukan pembatasan," ungkap pria yang karib disapa Kang Emil itu.


Ia dan rombongan melakukan simulasi pelaksanaan ibadah berjamaah di Masjid Al Irsyad. Nantinya, shaf salat akan diberi jarak dengan penanda tanda silang agar tidak berdekatan.

Selain itu, jemaah diharuskan mencuci tangan, lalu mengantre saat mengambil wudhu dan diberikan jarak saat menunggu. Keran air di tempat wudhu akan diselang seling. Saat masuk ke dalam masjid ada pengecekan suhu tubuh.

"Nanti saat Salat Jumat, boleh salat di jalan kalau di bagian dalam masjid penuh dan direkomendasikan membawa sajadah sendiri. Pulang tunggu pengumuman, jadi diatur shaf yang pulangnya duluan, tidak langsung bubar. Jadi kesabaran diuji, memang tidak nyaman tapi ini cara paling baik menyeimbangkan syariat beribadah. Berlaku untuk semua peribadatan agama lain," jelasnya.

Setelah beribadah, akan ada pengecekan sampling jemaat. Jika ada yang reaktif, dengan sangat terpaksa masjid maupun rumah peribadatan lainnya akan ditutup kembali.

"Misalnya setelah Salat Jumat ada yang reaktif hasil cek sampling, nanti ada prosedur pengetatan lagi. Kalau masyarakat disiplin, AKB ini akan berhasil. Kalau tidak disiplin, nanti masjid dan tempat ibadah lainnya jadi buka tutup terus," terangnya.


Pihaknya juga tidak merekomendasikan orang lanjut usia dan anak-anak beribadah berjamaah atau datang langsung ke tempat peribadatan. "Karena yang paling berisiko itu justru orang lanjut usia dan anak-anak, makanya lebih baik dua golongan usia itu beribadah di rumah," tandasnya.

(ern/ern)