Polisi Ungkap Miras Oplosan yang Dikemas Botol Bermerek di Bandung Barat

Whisnu Pradana - detikNews
Sabtu, 30 Mei 2020 13:35 WIB
Polres bandung barat ungkap miras oplosan
Foto: Whisnu Pradana
Bandung Barat -

Satresnarkoba Polres Cimahi menciduk AL (51), warga Padalarang Kabupaten Bandung Barat (KBB), lantaran memproduksi minuman keras (miras) oplosan.

Dari tangan pelaku, polisi berhasil menyita 22 botol miras berbagai merek yang tampak seperti aslinya. Namun miras tersebut dibuat dengan racikan bahan kimia etanol 96 persen, air, dan minuman bersoda.

Kapolres Cimahi AKBP M. Yoris Maulana Yusuf Marzuki mengatakan, miras yang diracik pelaku di rumahnya itu sangat berbahaya jika dikonsumsi oleh seseorang lantaran kandungan kimia yang jadi bahan bakunya diperuntukkan luka luar.

"Miras saja itu sangat berbahaya, ditambah lagi ini miras oplosan yang memang penjualnya hanya mencampur campur saja dengan menggunakan alkohol (etanol) 96 persen, campur dengan air, dicampur dengan minuman bersoda," ungkap Yoris saat gelar perkara di Mapolres Cimahi, Sabtu (30/5/2020).

Polres bandung barat ungkap miras oplosanPolres bandung barat ungkap miras oplosan Foto: Whisnu Pradana


Agar meyakinkan konsumennya, miras oplosan itu dikemas menggunakan botol miras bermerek yang didapat dari penjual rongsokan dengan cara menyegel ulang di bagian tutup botolnya.

"Botol-botol ini juga merupakan botol bekas yang dibeli dari tukang rongsokan. Jadi nanti bagian atasnya ditempeli plastik lagi, seolah itu segel," terangnya.

Miras oplosan itu dijual seharga Rp 60 ribu perbotol dengan sasaran konsumen orang-orang terdekat yang sudah jadi langganannya.

"Ada juga yang beli cukup banyak ke pelaku, nanti sama orang itu akan dijual lagi. Di pasaran paling mahal miras oplosan ini dijual Rp 250 ribu," bebernya.

Yoris menambahkan, di wilayah Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat, sejak awal Januari hingga Mei 2020, ada 2 orang meninggal dunia akibat menenggak minuman keras oplosan.

"Dari catatan kami korban miras oplosan ini 2 orang sampai meninggal, 5 orang kritis tapi sudah sembuh. Kejadiannya Februari lalu, di Cililin. Dari situ, kami lakukan penyelidikan terkait peredaran miras oplosan, dan didapat pelaku ini. Masih kami kembangkan, apakah korban meninggal itu berkaitan dengan pelaku AL ini atau tidak," tegasnya.

Atas perbuatannya, pelaku dikenai undang-undang KUHP pasal 204 serta undang-undang kesehatan dan juga undang-undang perlindungan konsumen dengan ancaman hukuman 15 tahun kurungan penjara.

Sementara itu, AL mengaku hanya menjual miras oplosan itu kepada orang-orang yang ia kenal. Satu botol miras dihargai Rp 60 ribu, dalam sehari menurutnya rata-rata laku dua botol.

"Diproduksi sendiri di rumah. Sudah enam bulan jualan (miras oplosan). Penjualannya masih sekitar Kabupaten Bandung Barat. Saya juga minum, tapi tidak kenapa-kenapa," katanya.

(ern/ern)