Perahu Rusak Tersapu Ombak, Nelayan Sukabumi Butuh Dermaga

Syahdan Alamsyah - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 13:16 WIB
Nelayan di Sukabumi mengeluhkan tak punya dermaga saat tak melaut karena gelombang tinggi
Nelayan di Sukabumi mengeluhkan tak punya dermaga saat tak melaut karena gelombang tinggi (Foto: Syahdan Alamsyah)
Sukabumi -

Ribuan nelayan di Pantai Selatan Kabupaten Sukabumi terpaksa berhenti melaut akibat gelombang tinggi. Ratusan perahu berdesakan di atas laut sebagian lainnya dibiarkan di pesisir pantai. Situasi itu terjadi karena tidak adanya dermaga representatif.

Tercatat 50 an perahu nelayan hancur, puing-puingnya tersebar di pesisir. Nelayan berharap ada pembangunan dermaga dan deretan batu pemecah ombak yang bisa melindungi perahu mereka dari gelombang laut

"Nelayan tumpuannya melaut, tolong pengertian dari pemerintah perahu banyak seperti ini sementara, dermaga nggak ada lihat saja perahu sampai desak-desakan begini," kata Yadi, Ketua Paguyuban Nelayan Ujunggenteng, Jumat (29/5/2020).

Saat ini kondisi perahu nelayan memang dibiarkan berjajar di pesisir pantai, sebagian disimpan di pasir sementara sebagian besar lainnya terombang-ambing di laut dan hanya mengandalkan ikatan tambang seadanya.

Pantauan detikcom, sebagian nelayan berupaya menyelamatkan perahu mereka dari hempasan air laut yang bisa menyeret perahu ke tengah. Mereka bergotong royong menaikkan perahu ke darat meskipun situasinya harus berdesakan dengan perahu lainnya.

"Sepekan ini banyak perahu rusak, saya dan teman-teman lainnya saling membantu untuk sekedar perbaikan ringan. Perahu banyak, masih belum dibuatkan dermaga, karena berdesakan saling tabrak dan hancur. Kalau butuh restribusi (untuk dermaga) tinggal ngobrol ke nelayan. Ini bukan usulan dari saya saja, tapi keluhan semua nelayan di sini hampir sama," tuturnya.

Sekretaris DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Sukabumi Ujang Sulaeman membenarkan hal itu. Menurutnya kondisinya Ujunggenteng berbeda dengan kondisi laut lainnya.

"Laut Ujunggenteng itu laut dangkal ketika pasang rob menjadi semakin besar, ditambah lagi di sana memang belum ada tempat sandar perahu," kata Ujang.

Pihak HNSI mengaku sudah mencoba mengusulkan pembangunan pelabuhan untuk masyarakat setempat namun selalu mentok di persoalan lahan.

"Kami sudah sampaikan usulan untuk infrastruktur pembangunan pelabuhan untuk masyarakat nelayan Ujunggenteng. Tapi karena kondisi lahan milik AURI (TNI-AU), saat ini juga mereka banyak sandar perahu di lahan tersebut. Sudah sering kami sampaikan di tingkat kabupaten maupun provinsi untuk segera dibangun, alih-alih (mentok) karena persoalan lahan," beber Ujang.

Ujang menambahkan, pengajuan sudah dilakukan sejak 5 tahun terakhir. Setiap ada pembahasan tentang kesejahteraan nelayan persoalan pelabuhan selalu disampaikan.

"Pengajuan sudah lama sekitar 5 tahun sering kita usulkan dan setiap ada pertemuan tentang kesejahteraan nelayan kita selalu bahas tentang infrastruktur kegiatan aktivitas nelayan termasuk di Cisolok, Minajaya, Ciwaru termausk Ujunggenteng.

Total nelayan di Ujunggenteng mendekati angka 4.000 nelayan, saat ini tidak ada tempat sandar mereka di laut dan pinggiran pantai," pungkas Ujang.

(sya/mud)