Libur Lebaran di Tengah Pandemi, Kawasan Wisata Lembang Lenggang

Whisnu Pradana - detikNews
Senin, 25 Mei 2020 15:20 WIB
Pemandangan kawasan wisata Lembang yang lenggang saat libur lebaran
Pemandangan kawasan wisata Lembang yang lenggang saat libur lebaran (Foto: Whisnu Pradana)
Lembang -

Suasana Idul Fitri di kawasan wisata Lembang, Kabupaten Bandung Barat, berbeda dari biasanya lantaran tak terlihat adanya kemacetan dan kerumunan wisatawan.

Beberapa minggu terakhir, semua obyek wisata yang menjadi favorit wisatawan luar Bandung Raya, ditutup oleh pemerintah untuk mengantisipasi penyebaran Corona Virus Disease atau COVID-19.

Warga Kayuambon, Lembang, Depi Gunawan, mengatakan jika biasanya arus lalulintas di Lembang pasti macet sejak hari pertama Idul Fitri. Namun saat ini jalan-jalan utama di Lembang terasa sangat lengang.

"Sudah lebih dari sebulan memang Lembang agak lengang. Mungkin sempat macet saat Ramadhan, terutama sore sampai buka puasa. Kalau buat saya warga Lembang ya ada enaknya juga seperti ini. Bisa keluar rumah tanpa macet-macetan," kata Depi, Senin (25/5/2020).

Persimpangan Beatrix, Alun-alun Lembang, Jalan Raya Lembang di depan Farm House dan The Great Asia Africa, serta persimpangan Grand Hotel Lembang yang biasanya menjadi simpul kemacetan, saat ini arus lalulintasnya sangat lancar.

"Biasanya saya ke Beatrix itu bisa sampai 45 menit kalau macet, tapi sekarang paling hanya 5 menit. Polusi udara juga sangat berkurang," bebernya.

Namun pandemi COVID-19 yang berlangsung juga memberikan dampak buruk bagi pengusaha wisata dan rumah makan yang ada di Lembang.

Sinta (36), pengusaha rumah makan di Lembang, KBB, mengaku sejak pandemi COVID-19 ditambah pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Maret hingga saat ini, usahnya mengalami penurunan omzet secara drastis.

"Ya sangat terdampak, apalagi selama Ramadhan dan lebaran, enggak ada pemasukan sama sekali. Biasanya kalau puasa ramai yang buka bersama, kemarin kan sepi karena dilarang berkerumun. Sekarang lebaran juga sepi, karena wisata ditutup sudah sebulan," ungkapnya.

Ia berharap kondisi ini segera berlalu dan pemerintah segera mengizinkan obyek wisata untuk dibuka kembali sehingga pengusaha kuliner sepertinya bisa bergeliat lagi.

"Kalau saya benar-benar mengandalkan pemasukan dari rumah makan. Sekarang rugi sudah puluhan juta, kalau seperti ini terus bisa bangkrut," katanya.

(mud/mud)