Setop PSBB, Pangandaran Kembali Terapkan Pengetatan Wilayah

Faizal Amiruddin - detikNews
Selasa, 19 Mei 2020 16:43 WIB
Poster
Ilustrasi PSBB (Foto: Edi Wahyono)
Pangandaran -

Pemkab Pangandaran memutuskan untuk menghentikan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berakhir pada Rabu (20/5/2020). Dipastikan Pangandaran kembali menerapkan pola pengetatan wilayah.

"Kita kembali ke pengetatan wilayah, artinya walaupun tidak menerapkan PSBB, tapi pemantauan pemudik tetap dilakukan. Posko-posko tetap beroperasi, masyarakat juga tetap diawasi untuk senantiasa menjalankan protokol pencegahan penyebaran COVID-19," kata Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata, Selasa (19/5/2020).

Menurut dia, kebijakan pengetatan wilayah sebenarnya menyerupai dengan PSBB, terutama terkait pengawasan pemudik dan mobilitas masyarakat. Langkah tidak melanjutkan penerapan PSBB ini, dilakukan Pemkab Pangandaran setelah memperoleh klarifikasi dari Gubernur Jabar Ridwan Kamil terkait level kewaspadaan dan indeks reproduksi virus Corona di Pangandaran.

"Pak gubernur sudah menjelaskan, tadi via telepon. Jadi memang benar ada kesalahan sistem pengolahan data terkait data gambaran kondisi COVID-19 di Pangandaran," tutur Jeje.

Sebelumnya, Jeje sempat protes karena indeks reproduksi COVID-19 di Pangandaran berada di angka 4,9, kemudian level kewaspadaannya masuk level 4 atau zona merah. Padahal, sampai saat ini di Pangandaran pasien positif tercatat ada 1 orang dan sudah sembuh.

"Ternyata benar, memang ada kesalahan input data," kata Jeje.

Meski demikian, Jeje meminta masyarakat jangan lengah sehingga mengabaikan protokol pencegahan COVID-19. "Yang di pasar, di toko-toko, hati-hati. Selalu gunakan masker dan jaga jarak. Alhamdulillah sejauh pantauan kami, di Pangandaran tidak ada kerumunan-kerumunan di pasar atau pertokoan," ujar Jeje.

Kedisiplinan warga, menurut Jeje, akan mempercepat pemulihan kondisi akibat pandemi COVID-19. "Mudah-mudahan bulan Juni nanti kita bisa memasuki masa 'new normal'. Anak-anak bisa sekolah lagi, pariwisata hidup lagi, tapi dengan tetap menjalankan protokol pencegahan COVID-19. Masyarakat harus melatih diri agar terbiasa dengan kehidupan normal yang baru," tutur Jeje.

(bbn/bbn)