Dihantam COVID-19, Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I Cuma 2,73 Persen

Yudha Maulana - detikNews
Sabtu, 16 Mei 2020 02:59 WIB
Pandemi virus Corona membuat dunia usaha babak belur.  COVID-19 juga diproyeksi mendatangkan malapetaka pada ekonomi Indonesia, bahkan dunia.
Foto: Antara Foto
Bandung -

Baru beranjak bangun dari imbas perang dagang Cina dan Amerika Serikat, perekonomian di Jawa Barat (Jabar) khususnya di sektor manufaktur gontai dihantam gelombang pandemi COVID-19. Situasi dilematis itu terjadi, karena corong industri manufaktur Jabar memiliki ketergantungan besar ke Tiongkok.

Kepala Biro Perekonomian Setda Jabar Rachmat Taufik mengatakan 20 persen industri manufaktur nasional berada di Jabar, mulai dari otomotif, elektronik, tekstil dan lainnya dengan tujuan dagang ekspor atau pun memasok kebutuhan di seluruh wilayah Indonesia.

"Sebetulnya tekanan ekonomi atau tekanan ke industri ini tidak hanya pada saat ada pandemi, Jabar merupakan salah satu yang paling parah mendapatkan tekanan pada akhir tahun, gara-gara perang dagang China, hal itu membuat ekonomi kita berada di bawah nasional," kata Rachmat dalam telekonferensi pers daring dari Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (15/5/2020).

Bank Indonesia Perwakilan Jabar mencatat, pada triwulan pertama 2020 angka pertumbuhan ekonomi di Jabar berada di angka 2,73 persen, menyusut drastis dari angka rata-rata lima persen atau di bawah angka pertumbuhan ekonomi nasional yang berkisar di angka 2,97 persen.

"Karena sangat bergantung bahan baku di luar negeri dan ekspor , terutama dari Cina. Saat pandemi pelabuhan ditutup, ekspor kita ke Cina tidak bisa masuk. Bahan baku kita hanya cukup dua bulan, sebagian besar (bahan baku) dari Cina, termasuk pada saat awal termasuk APD. Itu tidak ada, nah hal-hal itu yang harus kita cermati, agar tidak ada pekerja yang awanya dirumahkan lalu di-PHK," kata Rachmat.

Rachmat melihat, efek dari wabah juga merambah ke penyerapan komoditas pangan dari daerah di perkotaan. Krisis ini dimulai dari ditutupnya tempat pariwisata dan kuliner di kota-kota besar. Ia menilai hal ini secara tidak langsung berimbas pada tersendatnya pasokan pangan, sehingga muncul penumpukan.

"Karena pasar induk mengurangi omsetnya, biasanya seminggu tiga sampai empat kali, ini hanya dua kali. Terjadi penumpukan pangan. Peternakan ayam broiler juga yang tidak berafiliasi dengan pabrik-pabrik juga kesulitan menjual. Bisa kita lihat lihat di Ciamis dan Tasik, ayam dijual sampai di bawah Rp 10 ribu, padahal harga batasnya Rp 16 ribu," katanya.

Untuk mendorong perekonomian kembali maju, Pemprov Jabar akan terus berkoordinasi dengan forum pengusaha untuk mencari jalan keluar dari krisisi ini. Sementara, untuk sektor pangan pihaknya juga akan berkoordinasi dengan sejumlah pasar.

"Kerjasama dengan pegadaian masyarakat yang punya aset bisa menyimpan dulu di pegadaian, kita mendorong industri untuk bergerak di APD, Jabar memproduksi APD untuk seluruh Indonesia," katanya.



(yum/ern)