Berkas Satu Tersangka Pembunuh Driver Taksi Online Masuk ke Kejaksaan

Muhammad Iqbal - detikNews
Kamis, 14 Mei 2020 12:21 WIB
Polisi amankan 4 pelaku pembunuhan driver taksi online di Bandung. Keempat pelaku diduga rencanakan pembunuhan karena tak sanggup bayar ongkos perjalanan.
Para tesangka pembunuhan driver taksi online (Foto: Muhammad Iqbal)
Bandung -

Satu berkas tersangka pelaku kasus pembunuhan sopir taksi online telah masuk ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Bandung. Proses pengadilan pidana salah satu tersangka ini dipercepat mengingat usianya masih di bawah umur.

Keempat pelaku, IK (15), RM (18), RK (20) dan SL (19), diduga melakukan perencanaan pembunuhan kepada seorang pria yang berprofesi sebagai sopir taksi. Jasadnya dibuang ke tepi jurang di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Kasat Reskrim Polresta Bandung, AKP Agta Buana Putra menyampaikan, kini status kasus pembunuhan berencana tersebut memasuki tahap kedua untuk tersangka IK.

"Jadi untuk kasus pembunuhan driver online yang terjadi di Pangalengan ini kami sudah melaksanakan tahap kedua terhadap tersangka di bawah umur, pelaku yang berinisial IK," terang Agta kepada wartawan, Kamis (14/5/2020).

Agta menambahkan, semua keperluan percepatan peradilan pidananya telah diserahkan ke pihak kejaksaan. Seperti barang bukti, berkas kasus dan IK selaku tersangka.

"Kita serahkan berkas, barang bukti dan tersangkanya kepada pihak kejaksaan," kata Agta.

Percepatan proses peradilan tersebut merujuk pada Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Di mana setiap anak di bawah umur yang berhadapan dengan hukum berhak terjaga hak-haknya sebagai anak agar tidak terjadi traumatis.

Dalam Pasal 3 UU SPPA menyebutkan, apabila seorang anak di bawah umur, berhak tidak ditangkap, ditahan atau dipenjara kecuali merupakan upaya terakhir. Dan dalam prosesnya memakan waktu yang paling singkat.

"Proses hukumnya pasti sesuai dengan sistem peradilan pidana anak. Dan kita telah sesuai dengan sistem peradilan anak. Sekarang sudah di kejaksaan dan dilaksanakan persidangan dengan batas waktu yang ditentukan," ujarnya.

Menurut Agta, yang membedakan kasus pidana lainnya salah satunya adalah dalam waktu pelaksanaannya. Pelaksanaan peradilan pidananya menjadi lebih singkat dibanding peradilan biasanya.

"Kalau dari segi waktu pelaksanaan berbeda jauh, kondisinya memang diutamakan agar anak tersebut tidak terjadi traumatis," pungkasnya.

IK terancam hukuman penjara 20 atau maksimal seumur hidup karena telah melakukan perencanaan pembunuhan. Namun dalam SPPA, anak di bawah umur apabila berhadapan dengan hukum sebagai tersangka, tidak dapat dihukum seumur seumur hidup.

(mud/mud)