Jamasan Gerbong Maleman, Cara Kesultanan Cirebon Sambut Lailatul Qadar

Sudirman Wamad - detikNews
Rabu, 13 Mei 2020 02:41 WIB
Jamasan Gerbong Maleman, Cara Kesultanan Cirebon Sambut Lailatul Qadar
Jamasan Gerbong Maleman, Cara Kesultanan Cirebon Sambut Lailatul Qadar (Foto: Istimewa)
Cirebon -

Jamasan Gerbong Maleman, tradisi tahunan yang dilakukan Kesultanan Kasepuhan saat menyambut Lailatul Qadar. Pagebluk COVID-19 tak menyurutkan semangat keluarga Kesultanan Kasepuhan untuk tetap melaksanakan tradisi yang berusia tahunan itu.

Tradisi Jamasan Gerbong Maleman adalah menyiapkan saji maleman di komplek pemakaman Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat kata 'maleman' berasal dari bahasa Jawa yang artinya malam. Saji maleman, lanjut Arief, merupakan tradisi yang dilakukan pada malam ganjil, tepatnya pada 10 hari terakhir Ramadhan.

"Saji maleman ini kita akan menyalakan lilin, delepak dan ukup di makam Sunan Gunung Jati, hingga makam Sultan Sepuh XIII," kata Arief dalam keterangan yang diterima detikcom, Selasa (12/6/2020).

Arief mengatakan ukup berfungsi mengharumkan ruangan. Sementara itu, delepak dan lilin berfungsi sebagai penerang ruangan. "Makna Jamasan itu pencucian pusaka. Pusaka ini adalah perlengkapan yang digunakan untuk tradisi saji maleman," kata Arief.

Lebih lanjut, Arief menyebutkan perlengkapan yang digunakan untuk saji maleman, di antaranya gerbong atau peti yang terbuat dari kayu, guci, mangkok keramik dan botol.

"Gerbong ini berfungsi sebagai pengangkut perlengkapan. Guci dan mangkok keramik itu usianya ratusan tahun, sekitar 700 tahun. Fungsinya sebagai tempat ukup," kata Arief.

Arief mengatakan perlengkapan untuk tradisi saji maleman itu dibawa menuju makam Sunan Gunung Jati oleh pasukan khusus, yakni Kraman Astana Gunung Jati. Pasukan itu dilengkapi tombak.

"Mereka akan berjalan sejauh kurang lebih enam kilometer, dari Keraton Kasepuhan Cirebon menuju makam Gunung Jati. Kemudian, besok (13/5) delepak, lilin, dan ukup dinyalakan karena sudah malam ganjil," katanya.

Arief mengatakan pihaknya tetap menerapkan protokol kesehatan saat melaksanakan tradisi saji maleman. Ada atau tidaknya pagebluk atau wabah, Arief mengaku tradisi saji maleman harus tetap dilaksanakan.

"Ibadah Ramadhan kan harus dijalankan, begitu juga dengan tradisi ini. Tradisi ini dalam rangka menyambut malam Lailatul Qadar atau dikenal dengan sebutan malam dengan nilai 1.000 bulan," kata Arief.

(mud/mud)