Menakar RUU Omnibus Law Pasca Krisis Corona, Bisa Bangkitkan Perekonomian?

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 07 Mei 2020 19:15 WIB
Poster
Ilustrasi perekonomian di tengah Corona (Foto: Edi Wahyono)
Jakarta -

Wabah virus Corona yang menyerang Indonesia tak dipungkiri membuat dunia industri dan ketenagakerjaan di Indonesia limbung. Ekonom Universitas Padjadjaran Aldrin Herwany, menilai Omnibus Law RUU Cipta Kerja bisa menjadi pilihan yang bisa segera diambil pemerintah untuk mempercepat pemulihan pascakrisis.

Dalam seminar daring PWI Jabar Pokja Gedung Sate bertajuk "Aspirasi untuk RUU Cipta Kerja dalam Membangun Kembali Sektor Ketenagakerjaan, Industri, dan UMKM Pasca Pandemi COVID-19", Aldrin mengatakan pada prinsipnya RUU Cipta Kerja dibuat untuk mempercepat dan menghilangkan kerumitan investasi, khususnya untuk mengurangi dampak krisis.

"Banyak aturan dan regulasi yang tumpang tindih selama ini yang membuat kecepatan realisasi investasi kita terhambat baik di pusat atau daerah. Ini tidak bisa lagi terjadi karena ekonomi kita sudah terpukul karena pandemi," kata Aldrin, Kamis (7/5/2020).

Menurutnya, Indonesia saat ini dinilai masih tertinggal dan tidak kompetitif dalam pemeringkatan Ease of Doing Bussiness (EoDB). Bahkan di tingkat ASEAN, Indonesia menduduki peringkat tiga terbawah, di atas Filipina dan Myanmar atau ke-73 sedunia.

"Kemudahan mendapatkan perizinan, bahkan Indonesia paling bontot di ASEAN. Makanya, payung Omnibus Law yang sifatnya sapu jagat, membasmi aturan tumpang tindih, ini bisa menyelesaikan masalah ini," kata Aldrin.

"Semua investor punya desire ingin investasi, sedang mencari tempat aman dan enggak ribet peraturannya. Kalau ketok palu sekarang RUU Cipta Kerja, saya yakin, investor akan pilih Indonesia setelah pandemi Covid-19. Karena selama ini risk di kita tinggi, investor sedang wait and see, kalau sekarang ada gebrakan seperti RUU ini, investor akan lari ke kita, yang nganggur akibat pandemi akan terserap," katanya.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2