Corona Mewabah, Petani Bunga di Bandung Barat Merugi

Whisnu Pradana - detikNews
Senin, 20 Apr 2020 15:03 WIB
Pandemi COVID-19, Petani Bunga di Bandung Barat Kena Getahnya
Pandemi COVID-19, Petani Bunga di Bandung Barat Kena Getahnya (Foto: Whisnu Pradana)
Bandung Barat -

Pandemi Corona yang kian mengkhawatirkan beberapa waktu belakangan ini, berdampak pada semua sektor ekonomi, termasuk petani bunga di Kabupaten Bandung Barat.

Di Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, sebagai salah satu sentra penjual bunga dan tanaman hias di Jawa Barat bahkan di Indonesia, mengalami mati suri.

Berbagai jenis bunga seperti mawar, karnesen, snapdragon, dan jenis bunga lainnya tetap dipanen para petani namun tak bisa didistribusikan ke daerah

Sebulan belakangan, para petani bunga ini kehilangan pangsa pasarnya. Bahkan para petani harus menanggung kerugian puluhan bahkan ratusan juta rupiah setiap bulannya.

"Kalau untuk Cihideung, pasar bunga paling besar itu Jakarta, Jawa dan Bali juga, serta hampir memasok ke seluruh wilayah lainnya di Indonesia, tapi sejak adanya COVID-19 benar-benar mati tidak ada permintaan," ungkap Dede Widarman (32), saat ditemui, Senin (20/4/2020).

Dikatakan Dede, saat musim panen tiba, biasanya pengirim bunga kepada pembeli dilakukan dalam waktu dua hari sekali. Namun sejak adanya COVID-19, permintaan pasokan bunga total berhenti dari sejumlah daerah.

Ia pun cukup kesulitan mengakali kondisi pasar saat ini. Sementara perawatan bunga butuh biaya yang tidak sedikit dan jika dibiarkan bunga-bunga akan mati dengan sendirinya.

"Ya kalau sekarang bunga dibiarkan begitu saja di kebun, daripada untuk perawatan bunga lebih untuk kebutuhan sehari-hari saja, ini pun mengandalkan sisa tabungan yang ada," ujarnya.

Dalam setiap bulannya, lanjut Dede, Ia selaku petani kecil harus menanggung kerugian nominal rata-rata sebesar Rp 10 juta. Maka untuk petani besar, kata Dede, kerugian bisa dipastikan mencapai ratusan juta rupiah.

"Jarak waktu panen tanaman bunga inikan dua hari sekali, sekali panen untuk petani kecil bisa menghasilkan 30 sampai 40 ikat bunga dengan harga Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu, kalau dikalikan sebulan jelas kerugian sangat besar," terangnya.

Hal senada diungkapkan petani bunga lainnya, Firmansyah (30). Dikatakannya, tanaman bunga yang biasanya dipesan untuk acara pernikahan, perayaan wisuda dan acara perayaan lainnya, sekarang benar-benar sepi.

"Sekarang pasar bunga benar-benar mati, karena kebutuhan bunga ini biasanya buat acara perayaan-perayaan, sementara sekarang, orang-orang jangankan untuk perayaan, untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit, ditambah lagi untuk acara yang mengundang kerumunan massa tidak boleh," ungkapnya.

Ia berharap, wabah COVID-19 bisa segera berakhir agar pasar bunga bisa kembali normal seperti biasanya. "Semoga wabah ini cepat berakhir, karena imbasnya bukan kepada para petani bunga saja tapi juga ke semua lapisan masyarakat," pungkasnya.

Simak juga video Di Tengah PSBB Jakarta, Pedagang di Pasar Cipulir Nekat Berjualan:

(mud/mud)