Jembatan Penghubung 2 Desa Sukabumi-Cianjur yang Jebol Diperbaiki Tahun Ini

Yudha Maulana - detikNews
Jumat, 17 Apr 2020 14:34 WIB
Tiga orang warga tewas di jembatan penghubung Sukabumi-Cianjur. Mereka tewas setelah terjatuh dari jembatan yang pijakannya rapuh dan sebagian besar jebol.
Jembatan penghubung dua desa Sukabumi-Cianjur yang rusak (Foto: Syahdan Alamsyah)
Sukabumi -

Jembatan penghubung Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi dan Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur akan mendapatkan perbaikan tahun ini. Proses pelelangan pun tengah berjalan oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Sebelumnya, jembatan penghubung dua kabupaten itu kondisinya memprihatinkan. Jembatan sepanjang 120 meter dengan lebar kurang lebih 4 meter itu telah menelan 3 korban jiwa akibat terjatuh karena pijakannya yang rapuh dan sebagian besar jebol.

"Info terakhir dari Kabupaten Sukabumi lagi proses lelang," ujar Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Jabar Koswara saat dihubungi, Jumat (17/4/2020).

Pantauan detikcom di situs Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Sukabumi, tender untuk pembangunan Jembatan Cibuni Ruas Jalan Baros - Cibuni Kecamatan Cidadap Kabupaten Sukabumi dibuka pada 9 April 2020 lalu.

Lelang tersebut akan berakhir pada 20 April mendatang dengan nilai HPS Rp 32,5 miliar. Terlihat ada 39 peserta yang mengikuti tender tersebut.

Selain itu, ujar Koswara, bantuan keuangan pun telah dikucurkan kepada 27 kabupaten/kota, termasuk Kabupaten Sukabumi untuk menangani jembatan tersebut. "Tahun ini ada bantuan keuangan ke Kabupaten Sukabumi untuk penanganan jembatan tersebut," katanya.

Sebelumnya, Kades Cidadap Asep Mulyadi mengatakan kondisi jembatan tersebut sudah memprihatinkan. Tiga orang meninggal dunia, dua diantaranya berstatus pelajar.

"Masyarakat sudah sangat menunggu perbaikan jembatan ini karena satu-satunya akses transportasi penghubung dua wilayah kabupaten," kata Kades Cidadap, Asep Mulyadi melalui sambungan telepon, Rabu (15/4/2020

Menurut Asep, peristiwa tewasnya pelajar itu terjadi berturut-turut pada tahun 2017 dan 2018. Ada yang saat kejadian menggunakan motor ada juga yang terjatuh karena pijakan yang rapuh dan licin.

"Kejadian tahun 2017 dan 2018, ada pelajar sekolah SMK dan anak kelas 1 SD usia 6 tahun. Jembatannnya memang sudah tidak layak, jebol pada bagian pijakannya. Masyarakat sudah membuat pengganti sebagian pakai batang kelapa dan itu kalau hujan sangat licin," ujar Asep.

Asep memastikan seluruh warga di dua wilayah itu berharap perbaikan secepatnya. Bahkan tahun ini Asep berkeinginan bisa segera disentuh pembangunan.

Katanya tahun sekarang mau diperbaiki, tapi lagi-lagi tidak ada realisasi. Padahal sudah banyak yang ke sini termasuk dari Bupati, Kepala Dinas PU bahkan dari kementerian. Tidak ada satupun yang memberikan kabar baik mau dibangun," keluh Asep.

Tidak sekedar akses lintasan angkutan umum, kebutuhan hasil bumi antar dua wilayah juga tersendat akibat kerusakan di jembatan itu. "Hasil bumi sangat besar potensinya sekarang terhenti, kami inginnya pembangunan utuh dari nol persen, pembangunan ingin di beton agar kuat. Kami sangat memohon jembatan itu bisa segera diperbaiki," lirihnya.

Catatan detikcom, peristiwa pelajar tewas memang pernah terjadi pada tahun 2018 silam. Bahkan foto-video kejadian tersebut sempat viral di lini masa media sosial.

(yum/mud)