Cerita Perawat Wisma Atlet: Hibur Pasien hingga Atasi Jenuh Lihat Sunset

Syahdan Alamsyah - detikNews
Selasa, 14 Apr 2020 18:22 WIB
Cerita perawat asal Sukabumi yang bertugas di wisma atlet lawan Corona
Cerita perawat asal Sukabumi yang bertugas di Wisma Atlet melawan Corona (Foto: dok. Istimewa)
Sukabumi -

Sudah 15 hari lamanya Dayantri Azhari, warga Palabuhanratu, Sukabumi, menjadi relawan perawat di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, yang saat ini berfungsi sebagai rumah sakit darurat untuk penanganan COVID-19.

Tidak sembarangan bertugas menjadi relawan perawat di gedung ini, mereka harus senantiasa menjaga imunitas tubuh secara mandiri demi melayani para pasien. Standar protokol kesehatan yang dijalani setiap harinya sangat ketat.

"Kami jaga diri untuk pasien, harus selalu tersenyum, harus selalu menghibur, karena mereka kondisinya terisolasi dari dunia luar. Meskipun diperbolehkan bawa ponsel, tetap situasinya berbeda. Karena itu, kamilah yang benar-benar berperan menghibur mereka saat ini," kata Dayantri melalui sambungan telepon, Selasa (14/4/2020).

Setiap hari, Dayantri mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap, mulai dari google (kacamata pelindung), masker, sepatu, dan sarung tangan khusus. Setiap shit dengan rentang waktu pagi 7 jam, sore 7 jam, dan shift malam hampir 10 jam.

"Pertama hareudang (gerah) panas, nggak nyaman, hidung sama pipi sakit. Tapi alhamdulillah sekarang mulai terbiasa pakai APD, masker juga sudah biasa, mungkin tubuh menyesuaikan, mulai nyaman. Buka APD nggak sembarangan, mau pulang kami disemprot dulu pakai cairan pembunuh bakteri. Lepas APD harus benar-benar satu-satu, nggak boleh asal lepas. Digulung nggak boleh nyentuh bagian luar," jelas Dayantri.

Semua itu dijalani Dayantri dengan senyuman. Rasa bangga berada di garda terdepan bersama teman-temannya saat berperang melawan Corona selalu terselip di benaknya. Tidak ada keluhan, setiap hari mereka dituntut melayani pasien sebaik-baiknya.

"Kami menjaga imunitas pasien, menjaga agar mereka nggak drop. Di sini semua teman sesama perawat juga harus senantiasa dalam suasana baik, harus selalu happy. Kalau untuk menghibur diri, kadang-kadang kita naik ke lantai atas, lalu lihat sunset Kota Jakarta. Kami nggak boleh keluar sama seperti pasien meskipun pakai APD. Kami sudah kontak dengan pasien. Kasihan kalau kami keluar, misalkan ketemu dengan yang lain. Intinya, ada protokol yang membatasi," ungkap Dayantri.

Setiap hari Dayantri dan rekannya sesama perawat bertugas mengantar makanan, meminta pasien minum obat. "Kami nganter dan mengingatkan pasien supaya mau makan dan minum obat. Selain itu, menjaga mereka agar tidak murung. Kami mau nggak mau terbawa suasana saat mendengarkan curhatan mereka, bagaimana kondisi mereka saat ini jauh dari keluarganya," ujarnya.

(sya/mud)