Berduka Paramedis Meninggal Tangani Corona, Perawat RSHS Pakai Pita Hitam

Siti Fatimah - detikNews
Jumat, 10 Apr 2020 20:59 WIB
Tenaga medis di RSHS Bandung kenakan pita hitam di bajunya.
Foto: Petugas di RSHS kenakan pita hitam di bajunya hormati tenaga medis yang gugur karena Corona (Istimewa).
Bandung -

Hingga saat ini total sudah ada sepuluh orang perawat Indonesia yang gugur dalam tugas kemanusiaan menangani wabah virus Corona.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) pun menyampaikan duka sedalam-dalamnya bagi perawat yang meninggal dunia. Untuk itu, para perawat di RSHS mengenakan pita hitam di baju dari 10 sampai dengan 15 April 2020.

"Ini bentuk penghormatan dan duka cita yang mendalam dari kami seluruh perawat kepada sepuluh perawat dan tenaga medis lainnya yang telah gugur dalam menjalankan tugas merawat pasien dengan COVID-19," Kata Ketua Dewan Pengurus Komisariat PPNI RSHS Ganjar Wisnu Budiman kepada detikcom, Jumat (10/4/2020).

Dia juga mengatakan, penolakan jenazah perawat yang tertular COVID-19 asal Semarang sangat memilukan."Dan kemarin terjadi hal yang memilukan, jenazah rekan sejawat kita ditolak di tiga tempat pemakaman umum," ujarnya.

Ganjar juga mengajak seluruh perawat se-Indonesia untuk menggunakan pita hitam. "Dengan gerakan ini kami ingin masyarakat tahu dan peduli kepada kami, perawat, dokter, dan petugas kesehatan lainnya, bahwa perjuangan kami untuk melawan wabah COVID-19 ini sangat berat, sampai dengan nyawa taruhannya." Harapnya.

"Berhenti berstigma negatif, bantu kami melawan virus COVID-9 ini dengan tetap menjaga kebersihan tangan, pakai masker saat berkomunikasi, jaga jarak dan stay of home, bila memang tidak sangat mendesak harus keluar rumah. Ini wabah bisa kita musnahkan bila kita semua bersatu melawannya," tambah Ganjar.

Sedangkan saat ini, beberapa perawat RSHS diinapkan di Unit Pelatihan Kesehatan (Upelkes) Dinas Kesehatan Kota Bandung dan beberapa di Hotel Preanger. Kata Ganjar, hal tersebut dilakukan karena ada oknum yang juga melakukan penolakan kepada para perawat di kos-kosannya.

"Ada juga oknum masyarakat yang memiliki tempat kos, tidak berkenan bila perawat yang merawat pasien COVID-19 berada dan tinggal di tempat kos nya," pungkasnya.

(mso/mso)